AKU TURUN KE JALAN
tegas melangkah
teguh pendirian
aku adalah pacung petani
aku adalah tembilang petani
jika petani derita, aku pun sengsara.
padi dirawat petani
menyuplai nafas kami
jagung ditanam petani
memberi harapan kami
sayur disiram petani
menyegarkan pikiran kami.
aku diam
aku ditindas berkali-kali
maka bergerak akan membekas
di kuping para penguasa, di tanah ibu bapak
di jalan raya yang lapang, biarlah tembok
merekam teriakan kami.
apabila telinga penguasa tuli
cukuplah langit jadi pendengar terbaik
jika hati penguasa membatu
cukuplah bumi yang lapang memeluk
aku berjuang hingga akhir
mati dalam perjuangan itu terhormat
dari pada ditimbun oleh penindasan.
aku di jalan
turun dan bergerak berbekal doa
dari hati ibu bapak yang suci
demi ribuan kepala, ribuan nyawa
masih ingin hidup layak.
aku petani
jadi latar foto penguasa
ketika panen raya dipestakan
mereka meraih penghargaan
kami melarat dililit hutang.
aku tau
suara-suara ini tak meruntuhkan
tembok kekuasan yang berbaja iblis
namun aku sadar, sangat menyadari
bahwa Tuhan maha tahu hati kami
terzalimi.
aku turun berjuang
matahari memotret tanpa lelah
aku relakan keringat jadi darah
tumpah, mengalir, membumi jagi pengingat
petani dikhianati.
wahai gedung megah penguasa
burung garuda di dadahmu
ada keringat petani belum kering
pada baju seragam indahmu
ada janji yang tak ditepati
kau lalai.
aku menghadapmu, Tuan
berdiri dalam terik matahari
mari turunlah ke sini
berjemur bersama petani
supaya keringat kita menyatu
sama-sama asin, sama-sama ingin makan.
Tanjom Malim, 10 Juni 2020



Comments
Post a Comment