LIA
La Ndolo Conary
Ia berlari pelan, mengulurkan tangan sambil tanya tentang kabar, saat langit kelabu dan matahari kehilangan daya cahayanya. Di belakangnya, ada bocah lelaki yang ikut berjalan, seorang anak yang ia kandung dan lahirkan dari pertautan cinta yang ia banggakan. Meski kini aku tak melihat senyum yang penuh semangat, kecuali ia tertunduk pasrah dan seperti orang yang malu, sejenak aku dapati ujung matanya memendam duka, lalu kembali tanya tentang keluarga yang ia kenal sebelumnya.
"Semuanya baik-baik saja," jawabku ketika ia tanya tentang ibu dan kakak.
"Mestinya saya harus berkunjung," ucapnya dengan nada yang lemah.
"Seharusnya kau tetap melihat mereka. Sebab, kita masih berkeluarga," saranku.
"Itu yang kusesalkan."
"Waktu belum menutup pintu untuk saling berkunjung dan bertemu."
"Kau tak berubah," ia memuji.
Aku mengendong bocah lelaki yang ikut bersamanya, aku tanya tentang lelaki yang pernah ia pertaruhkan hidup. Katanya, lelaki itu sudah hilang saat kehamilannya memasuki usia dua bulan. Tak pernah ada kabar, tak juga ada pesan yang ditinggalkan saat pergi, kecuali satu kecupan di kening yang hambar.
"Mengapa kau tak mencarinya?" tanyaku.
"Aku tau dia baik-baik saja," ucapnya.
"Segitu yakinkah?"
"Tidak juga."
"Lalu !"
"Aku merasa ia tetap sehat. Aku selalu doakan untuk dirinya. Setiap doa yang ikhlas yang memberi keselamatan pada seseorang," jelasnya.
"Kau masih berharap ia kembali. Menjadi seorang ayah dari anakmu," tanyaku sambil mengusap kepala bocah itu.
"Aku tidak berharap kecuali menunggu saja."
"Mengapa sepasrah itu?"
"Aku tidak sedang pasrah melainkan mengerti tentang hidup. Tak baik berharap sebuah kepulangan sesuatu yang kita lepas dengan tulus, aku tak ingin dikutuk oleh takdir menyesali hal yang kurestui sendiri. Tapi aku punya hak untuk menunggu, karena ia pernah datang dan tau alamat ini. Ia tau ada darah yang jadi daging yang diakui oleh sejarah," jawabnya lirih.
"Siapa namanya?" sambil kupeluk erat bocah itu.
"Darus. Dua tahun lima bulan."
Aku mengerti ketika ia menyebut umur anak itu, berarti ia sedang menghitung kehilangan. Meratapi waktu kepergian serta merenungi kekhilafan yang terjadi. Aku sendiri membenci lelaki, membenci kejamnya sikap yang menelantarkan perempuan. Karena ketidakwarasan lelaki perempuan dinilai rendah, dianggap murah oleh mata sosial. Bahkan tak sedikit perempuan yang membuang diri dilokalisasi karena patah hati atau korban dikecewakan oleh lelaki, memilih lorong penuh nista karena rasa putus asa.
......bersambung.



Comments
Post a Comment