KRITIK ITU TANDA SADAR

La Ndolo Conary

Saya tentu belum terlalu dewasa, jika indikatornya pikiran dan tindakan, keselarasan pikiran dan tindakan merupakan harmonisasi karakter seseorang, pikiran merupakan ekspresi pahaman dan akan menjadi ekspestasi kalau dipadukan dengan berkarya, tindakan  menjadi standar pengabdian terhadap pemahaman yang terpikirkan. Tetapi, apabila mengacu pada umur, saya sudah dewasa, cukuplah standar manusiawinya. Seharusnya usia mengimbangi cara dan corak berpikir.

Hari-hari ini saya membaca tulisan yang tersebar di media sosial, baik dari satatus biasa maupun tulisan yang dimuat oleh media jurnalistik. Adakalanya saya mengeritkan kening, tapi lebih sering tertawa kecil-kecil saja. Atau sesekali memberi simbol jempol dan tepuk tangan, biar bermakna mengembirakan. Walau sesungguhnya 'jempol dan tepuk tangan' pun tak bermaksud memuji dan mengapreasiasi, bisa jadi bentuk 'kemuakan' lain dari sebuah realitas yang sedang kita hadapi.

Siapa saya? Siapa kamu? Pertanyaan-pertanyaan ini pun sering muncul, bahkan menjadi status yang meramaikan jagat raya medos. Pertanyaan yang eksistensialis justru memunculkan saling ragu kualitas dan kredibilitas sesama, mungkin juga pertanyaan tersebut sebagai pembatas secara personaliti, sehingga akhirnya kita tidak bisa membedakan mana yang publik dan mana yang privat dalam 'tubuh sosial' kita. Bagi saya dalam hidup ini atau dalam diri seseorang ada 'tubuh sosial' atau 'wajah publik', diantaranya pikiran dan tindakan.

Kembali pada tulisan yang bertebaran diruang publik medos, tentu teks-teksnya lebih banyak menghina atau saling merendahkan satu sama lain. Saya lebih sepakat cara baru menghina yang dibungkus dengan label kritik. Cara baru mencaci yang dipoles dengan label peduli dan perjuangan. Apakah saya tidak suka kritik? Secara esensial saya setuju kritik terus dilakukan, terus digelorakan, terus dikumandangkan. Kritik itu pertanda masih ada kesadaran individu dan kolektif, masih adanya pikiran-pikiran yang sehat, tradisi keilmuan hidup. Namun, kritis yang berbumbu merendahkan dan menghina tentu bukan simbol kesadaran. Kesadaran tentu mengedapankan etis dan estetis, minimal tercermin dalam ucapan kesehariaan kita.

Kesadaran kritis itu perlu dijaga, dirawat bersama, tapi perlu diingat data dan analisa mendalam juga penting, bukan kritik bermodal lihat foto atau mendengar ocehan mimpi buruk saja. Lebih-lebih jangan garang di beranda dimedos tapi lembut di inboxnya, di beranda menolak di inbox menerima, merendahkan orang di muka umum tapi mengemis di ruang-ruang sepi.

Siapa saya? Saya hanyalah puing-puing dari sampah jaman, mungkin merasa muak melihat dan mendengar dagelan para pembual. Siapa saja, siapa pun, termasuk diri saya sendiri. Saya sedang mengkritik dan siap dikritik, tentu kita berlaku sama. Adilkan?

Orang lain sedang inovasi pikiran, saya masih belajar satire, mungkin termasuk kamu juga demikian. Maka wajar kita hanya berlomba gerak jalan dan istirahat di tempat.

_arus narasi_

Comments

Popular Posts