TENAGA SUKARELA


Perihal : TENDANGAN SUBASAH

Saat Covid 19 mengancam keberadaan manusia di Muka Bumi, termasuk Kabupaten Bima. Para tenaga sukarela terpaksa harus ikut terguling-guling bersama bola yang di oper ke-sana dan ke-mari. Nasi telah jadi bubur, kadang mereka pun enggan mengolah bubur itu jadi santapan lezat. Karena, mereka lelah dan letih menerima permainan yang tiada akhir itu.

Sementara itu, sebelumnya mereka sudah mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara ini melalui pintu-pintu kampus yang ada. Mereka berjuang demi membantu cita-cita bangsa untuk menyelematkan nyawa manusia saat yang lain terbaring sakit dan tak kuasa untuk bangkit sendiri. Selama belasan dan bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya menuntut ilmu demi kemaslahatan umat dan mencari sesuap nasi untuk melanjutkan hidupnya.

Apalah daya mereka yang hanya dipekerjakan dengan sukarela. Tenaganya dibutuhkan.
Waktunya dikorbankan demi yang lain.
Tapi, mereka tak diperhitungkan.
Apalagi bicara soal Gaji.

Gaji yang mereka dapatkan perbulan/dua bulan ataupun tiga bulan sekali pun sangat mengiris hati jika diketahui. Kadang ada dibawah Rp. 100 perbulan dan bahkan nominal itu mereka dapatkan per tiga bulan sekali.

Penguasa tetaplah penguasa.
Sultan tetaplah sultan.

Sehingga, terkadang mereka berfikir tiada bernilainya ilmu dan pengetahuan yang mereka peroleh selama menuntut ilmu.

Tiada mungkin menjadi Tenaga Sukarela adalah impian mereka.
Namun, paling tidak perhitungkanlah tenaga dan waktu yang telah mereka abdikan untuk membantu kekosongan instansi yang ada. Karena, tanpa mereka pun tak mungkin semua itu dapat berjalan.

Walau haknya tidak seberapa, paling tidak sudilah untuk menyampaikannya. Ikhlas lah untuk melihatnya. Cukupkanlah dengan hati yang sejuk untuk mereka.

Comments

Popular Posts