Nyawa Jadi Mainan, Adakah Hatimu?

Sedih. Cukup memilukan. Serta memalukan plus memuakkan. Setidaknya itu perasaan dan pikiranku membaca postingan, bernada keluhan dan kekesalan terhadap bantuan sosial yang bertujuan meringankan beban masyarakat saat wabah Covid-19 melanda kita. Tapi masih ada saja keluhan tidak tepat sasaran, pendataan yang kurang akurat, serta terindikasi ada yang doubel. Semacam itulah keluhan yang bertebaran di media sosial.
La Ndolo Conary


Membaca hal-hal tersebut, tentu saya berharap tidak benar adanya. Tak mungkin pemerintah menafikan kepentingan hajat hidup masyarakatnya (rakyatnya). Mana mungkin ada orang atau oknum yang begitu 'bejat' mencari keuntungan dalam kondisi seperti ini, tak bisa dipercaya ada oknum yang masih mempraktekan nepotisme dalam kondisi serba panik ini. Saya belum percaya sepenuhnya isu-isu yang tersebar itu ada indikasi kuat bahwa praktek kolonial masih dilakukan oleh oknum yang memiliki jabatan, baik di desa maupun di kabupaten, hingga jenjang ke atasnya. Tak mungkin. Kita sedang menghadapi bencana kemanusiaan, kita sedang menyelamatkan nyawa manusia.

Sayang, rasa ketidakmungkinan tersebut lenyap, hilang begitu saja dan terpaksa saya yang dimencoba berpikir positif, bergeser ke pikiran negatif. Beberapa hari yang lalu, saya sempat berkomunikasi dengan seorang senior, membincangkan tentang upaya pemerintah memenuhi kebutuhan hidup masyarakat ditengah gentingnya covid-19, ketika himbauan #StayAtHome, maka tanggungjawab pemerintah menyediaan makan minum dan jaminan kesehatannya. Ide besar, kemauan tulus tersebut, tak berbanding dengan kenyataan. Mengapa demikian? Sesuatu yang klasik pun berulang, soal data yang amburadul, tidak sinkron dan sinergis, tidak berasaskan fakta empirik. Jika datanya amburadul alias eror, penyalurannya pun akan sama. Sehingga, tidak kaget dilapangan ada gejala atau reaksi masyarakat yang mengecam tidak pedulinya pemerintah.

Sangat disayangkan, anggaran yang besar tapi tidak tepat sasaran. Siapakah yang bermain dalam manipulasi dan menikung kasus-kasus tidak tepatnya sasaran bantuan itu? Saya hanya berani menduga, ada oknum yang bekerja seperti robot atau macam binatang buas, mementingkan kepentingannya dan tidak punya kepekaan sosial yang cukup. Ambisinya telah membutakan hati untuk bekerja secara jujur. Mental buruknya sudah dipelihara berlapis-lapis waktu, sehingga gak bisa bedakan mana yang baik dan buruk. Keterlaluan. Bejat. Berperilaku iblis.

Dalam kondisi yang parah ini, ternyata ada manusia yang bermain-main dengan nyawa manusia. Nyawa-nyawa itu hanya diperindah untuk data dan pendataan, tak kerjakan dengan baik, tak ditranfer ke atas, justru menggantikan di jalan, sesuai selera dan kepentingan mereka saja. Di lapangan mencatat, di data mencoret dan menggantinya. Akhirnya, masyarakat yang lapar dihimbauan sabar plus intimidasi, mereka yang berkecukupan dimaklumi serta disuruh contohi.

"Saya pikir sudah tidak ada sifat kebinatangan disaat ini, adinda. Jahat, bejat, dan tidak manusiawi. Sungguh tersayat hati saya melihat kenyataan ini. Masyarakat kita sedang membutuhkan makan minum terpenuhi. Tapi, ada saja oknum yang tidak waras. Bercucurlah airmataku menyaksikan kebejatan ini. Pantaslah kita tidak bisa keluar dari kemiskinan," kisahnya menjelang subuh yang sunyi.

Saya selalu berpikir, dimanakah hati mereka yang begitu rela menjadikan nyawa dan kepala manusia sebagai mainannya? Biadab.

_kaum rebahan_

Comments

Popular Posts