Jembatan Kananta; Komitmen Pemerintah Provinsi dan Bully Netizen
![]() |
| La Ndolo Conary |
Belakangan ramai teriakan sebagian orang tentang jembatan kananta, ada yang sebut Gubernur PHP dengan dalil hingga kini proses pembangunan itu belum mulai. Sementara informasi yang saya peroleh pemerintah provinsi sudah menyediakan uang untuk pembangunan jembatan dalam APBD tahun 2020. Artinya komitmen dan keseriusan itu sudah terlihat, walau untuk melakukan pekerjasnnya masih ada tahapan lain. Terdaftarnya alokasi buat jembatan kananta dalam APBD cukup memberi kepastiaan untuk publik (masyarakat) bahwa pemerintah peduli terhadap keresahan yang dihadapi oleh masyarakat.
Proses perjuangan untuk jembatan ini, cukup banyak pihak yang terlibat daƱ melibatkan diri, bahkan ada yang hingga keluar darah, demi kepedulian terhadap daerah. Bahkan saya pribadi sempat di sebut 'cari muka', hanya menghadiri pertemuan dengan Pak Gubernur atas inisiatif dan kepedulian kanda Hadi Santoso saat itu. Pertemuan yang dihadiri oleh banyak pihak, termasuk teman-teman mahasiswa Donggo-Soromandi yang ada di Mataram. Demi kepentingan yang sama kita bisa menghina sesama, dinamika yang luar biasa.
Apa sih makna 'cari muka' yang dialamatkan kepada kami (saya) saat itu? Saya memaknai sederhana saja, ada sebagian orang yang mencurigai kami sabotase perjuangan. Semacam mengambil alih perjuangan, seakan-akan kami mencari nama diatas perjuangan bersama itu. Padahal misinya sama menginginkan pembanguna jembatan terrealisaso dengan cepat. Tapi, misi yang sama perlu menuduh dan menuding. Ironis.
Kini pun, setelah ada kepastian informasi bahwa pemerintah sudah menyediakan anggaran. Masih saja dibilang PHP dan membully, dulu sebelum dialokasikan dibilang tidak peduli. Sementara kita kadang lupa untuk mewujudkan pembangunan perlu proses dan tahapannya. Mestinya kita menjernihkan pikiran untuk objektif memahami sebuah persoalan. Supaya kematangan menganalisa dan menyebarkan informasi berdampak baik.
Mungkinkah ada rekayasa panggung perjuangan diujung teriakan PHP dan bully tersebut? Jika pun informasinya belum jelas, tentu banyak pihak yang bisa diminta sebagai sumber informasi. Supaya kejelasan tuduhan dan tudingan mempunyai manfaat pula.
Lalu, apa saya tak peduli terhadap jembatan tersebut? Cukup dipikirkan dengan baik jawabannya. Setidaknya saya mengurangi cara menuduh dan menuding hanya sekedar berkoar-koar.
Saya pun bernafas sambil beristigfar. Jangan bertanya apabila tak memerlukan jawaban.



Comments
Post a Comment