Aku; Pecalur, Bandit dan Sampah

La Ndolo Conary 

Sore tadi, matahari terlihat redup, senja pun kehilangan gairah, kemudian kemudian kendaraan berpacu saling cepat melaju. Tak kulihat burung-burung yang biasa berkicau di pohon besar dan tua di samping tokoh itu. Aku duduk di sebuah halte tanpa menunggu siapa pun.

Di pagi yang perawan, aku membaca di beberapa media online, media sosial, dan sesekali menyimak potongan vidio yang tersebar di youtube. Aku membaca peristiwa-peristiwa yang mungkin sangat buruk, tapi diantara itu orang-orang selalu mengakui diri paling baik dan benar. Paling sholeh dan patuh, suci sesucinya. Vidio-vidio pun banyak mempertontonkan kehebatan sembari menyerang dan menghina satu sama lainnya, kebenaran diperjuangkan melalui persepsi tapi lupa ditegakan melalui sikap.

Aku terkagum dengan orang-orang yang merasa benar dan membela kebenaran. Aku membaca cukup serius pandangan mereka yang dikutip dalam media itu. Aku pun serius membaca tulisan-tulisan mereka yang terpublis di media sosial, melalui ucapan yang ditulis itu kutemui beragam makna, tentu aku kira orang-orang itu sangat hebat. Bahkan kehebatan-kehebatan itu ditunjukan dengan garang dan marah. Luar biasa.

Aku adalah pelacur yang tersisihkan dari ragam kisah-kisah, nalarku telah ditukar dengan lembaran uang untuk mendiamkan kejahatan. Akulah pelacur yang dicemooh hanya bersimpati pada kebaikan penguasa, lalu berteriak melawan kejaliman ketika tidak memperoleh jatah. Tubuhku sudah jadi robot, dikendalikan untuk berbicara demi kepentingan pihak tententu, menyerang serta menyalahkan pihak lain dengan ucapan kotor dan jorok. Bahkan narasi keagamaan aku jadikan sebagai senjata untuk melumpuhkan pihak lain lalu mengambilkan keuntungan sendiri, walau harus berkompromi dengan iblis.

Aku bandit yang kejam, ambisi ingin melukai orang lain setiap saat, hanya karena berbeda tuan yang disembah. Memuja memuji dikala memperoleh kesenangan, marah-marah apabila permen itu kehabisan rasa manisnya. Menyerang terbuka dipublik, namun mengemis pelan-pelan di lorong gelap dan senyam. Berteriak tentang keadilan tapi suka berorasi jika ada garansi yang ditranfer dalam rekening. Berbahasa yang cukup moralis namun doyan juga nikmati barang haram. Aku siap membunuh orang lain apabila kebenaran itu bersaldokan uang yang banyak.

Aku juga sampah diantara kebisingan perbincangan politik, akulah yang sering mencari kepentingan sendiri dengan menjual nama orang banyak. Akulah yang suka diam dan tunduk di ketiak penguasa, walau hal itu sekedar mengikuti cara mereka dulu dan kini mereka berbeda haluan. Aku jadi tempat pembuangan yang kotor dan pahit, lalu diasingkan jika arah angin berubah lebih menjanjikan. Aku didaur ulang berkali untuk keperluan dan dibusukan berkali-kali demi popularitas orang lain.

Malam makin sunyi, angin menyuruhku pulang je rumah. Aku buru-buru berdiri di depan cermin ketika tiba rumah, aku rabah wajahku, aku sisir rambutku, aku melototi mataku sendiri. Aku lihat beragam wajah dan perbuatan, mereka itu sedang melacur beralaskan permadani mahal juga. Mereka sedang merencanakan menyerang orang lain. Di mulut mereka keluar kata-kata senonoh. Aku tersenyum dan bangga, ternyata aku tidak sendiri jadi pelacur.

_arus narasi_

Comments

Popular Posts