Sampah Pikiran
![]() |
| La Ndolo Conary |
Pukul sembilan pagi, aku star dari kost menggunakan sepeda berwarna pink, menghadiri acara musyawarah organisasi. Sesungguhnya aku telah telat dan tentu itu sebuah kekeliruan yang besar. Di sini, disiplin jadi kata kunci untuk semua aktivitas, kedisplinan nilai yang sangat di junjung tinggi orang-orang di sini.
Di lantai tiga, ruangan yang sejekuk, perjumpaan yang dialektis, rasa persatuan yang masih terus digaungkan tapi tetap saja rapuh, kata-kata terlontar dengan mudah walau menyentil plus menyskiti satu sama lain. Pikiran betul-betul belum adil menerima keragaman, pikiran sering menempatkan orang lebih rendah tanpa melihat secara jernih.
Di lantai tiga, saat waktu istirahat aku menepi di pinggir sambil melihat hujan, daun-daun menghijau serta menyegar, atap rumah-rumah kulihat bersih, dan gunung di kejauhan tak terlihat jelas karena hujan makin deras. Aku berkaca pada hujan, terpantul wajah-wajah sumriang dan bersedih, di sana pun wajahku ada. Wajah-wajah yang saling memuji sekaligus saling menghina, wàjah-wajah dilematis mengisi ruang-ruang publik-sosial, wajah-wajah itu saling pembenaran dalam menghancurkan wajah-wajah lain. Siapakah yang paling benar? Wajah-wajah itu membuat relasi, maka benar itu miliknya mereka yang punya kuasa baik jabatan maupun materi, benar itu miliknya wajah yang cantik terhadap wajah jelek, benar itu punya yang cerdas dihadapan yang bodoh, benar itu kuasai yang sholeh diantara yang tidak sholeh.
Lalu, selain itu dominasi terjadi, penjahat makin dianggap benar karena menguasai ruang publik, memamerkan wajah-wajah jahat sambil tertawa dan bertepuk tangan. Para penjahat mendapat ruang publik lebih banyak dari pada yang baik-baik, sehingga orang baik pun hanya mengisi waktu untuk membicarakan kejahatan orang lain. Kini, kata-kata baik dinilai pencitraan dan kata-kata senonoh diterima sebagai bahasa kritikan. Dan, kita temui hanyalah saling meludahi muka sesama kawan dan saudara, merasa bangga itu cara saling membangun.
Hujan mulai beranjak jauh, aku melihat ke lantai bawah, di aulat tengah gedung itu aku melihat pelajar sedang berlatih tari, bergerak mengikut ritme komposisi yang diiringi oleh musik yang sesuai. Hanya berjarak satu lantai, aku melihat ukuran badan mereka kecil, maka hal yang sama pula di mata mereka aku terlihat kecil. Begitulah kenyataan saat kita merasa besar tapi di mata orang lain kecil atau biasa saja.
Tetiba ada seorang datang menghampiri, memintaku untuk mengumpulakan sampah di tempatnya. "Kumpulkan atau bersihkan?" Tanyaku padanya. "Bersihkan sampah. Kita tak boleh hidup damai jika ada kekotoran. Hati dan pikiran harus dibersihkan, tersuci dari iri dan dengki. Hanya itu yang membut kita makin manusiawi," jekasnya.
_arus narasi_



Comments
Post a Comment