Dou Donggo
![]() |
| Rizalul Fiqry |
Oke, fiks.
Kali ini saya harus angkat bicara, sebagai putra Donggo.
"Hanya Karena Kebiasaan, Tidak Berarti Itu Biasa"
Istilah, atau umpatan, "Lako Donggo" yang biasa digunakan adalah dalam rangka:
(1) Membandingkan dua sifat yang berbeda. Bahwa, yang Donggo itu cenderung negatif (tidak baik) sementara pada sisi pengumpat itu baik.
(2) Mengkiaskan tentang keadaan komunitas yang keras kepala (dalam makna yang buruk).
(3) Mendiskriminasi dan memarginalkan Donggo yang tentu saja merupakan sebuah komunitas etnis.
Lalu, kemudian, lantas apakah tidak wajar jika Dou Donggo menjadi tersinggung ketika kesalahan orang (komunitas) lain, dilimpahkan mentah mentah pada Dou Donggo melalui umpatan, "Lako Donggo"?
Jika sedikit ada keinginan berpikir dalam kepala, kita akan bertanya, kenapa umpatan "Lako Donggo" ada dan terus digunakan sampai sekarang?
Oke, paling tidak akan kami ceritakan tiga peristiwa yang menyebabkan Dou Donggo dianggap pemberontak dan bebal oleh penguasa.
(1) Peristiwa ompu Sambolo Kala yang menghadiahkan kerbau kurus pada raja. Itu bukan peristiwa penghinaan, tapi aksi protes pada raja karena memaksakan upeti pada saat keadaan masyarakat melarat.
(2) Peristiwa lewa kala di bawah komando la Ntehi Donggo. Penguasa bisa saja menganggapnya sebagai pemberontakan, tapi penyebabnya adalah penggunakan pajak perkepala pada masyarakat sesaat setelah penguasa menerima penjajah.
(3) Peristiwa 1972, yang kemudian dianggap sebagai gerakan makar oleh penguasa. Tuntutannya, menurunkan bupati ketika itu karena tidak amanah dan dengan dugaan illegal Logging di Wera. Serta meminta pemerintah agar mengembalikan putra daerah sebagai bupati.
Sisi mana dari tiga peristiwa itu yang mengarahkan bahwa, Donggo ada sifat yang keras kepala dalam muatan negatif? Kemudian, lantas apa yang menyebabkan ada kegembiraan dalam hati Dou Mbojo ketika mengumpat dengan kata, "Lako Donggo".
Oh ya, dari tiga peristiwa di atas dan umpatan "Lako Donggo", sangat memiliki keterkaitan. HANYA MEREKA YANG MERASA DIRUGIKAN OLEH DOU DONGGO-LAH YANG MELEMPAR UMPATAN PADA DOU DONGGO. MAKA, MEREKA YANG SENANG DENGAN UMPATAN LAKO DONGGO, ADALAH MEREKA YANG BERSILANG SISI DENGAN DOU DONGGO.
Untuk mereka yang masih menganggap biasa dengan umpatan itu, sementara sudah dijelaskan, maka dengan sendirinya akan tertunjuk siapa yang keras kepala! Hanya karena itu kebiasaan, tidak berarti itu benar! Itulah kenapa akal dan daya nalar menjadi penting!



Comments
Post a Comment