Aku Selalu Gagal Menoleh Ke Belakang
![]() |
| La Ndolo Conary |
Sehatkah aku? Di bus menuju kampus kedua aku bertanya begitu dalam hati. Aku merasa kurang sehat bukan karena tubuh yang letih atau lemah, buka pula ada penyakit yang mengidap dalam tubuh berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, tak juga disebabkan oleh pengaruh cuaca, melainkan pikiran yang makin sombong dan lalai mengingat kebaikan-kebaikan orang lain.
Di atas bus aku melihat orang berlomba lebih cepat melaju, di sebuah halte mahasiswa sudah keringatan menunggu bus juga, pohon tumbuh dengan subuh, air sungai di kolom jembatan itu sangat bersih. Aku pun memutar memori seperti mendengar lagu kenangan dari kaset yang sudah lama tersimpan. Di langit imajinasi aku melihat orang tua, saudara, teman masa kecil, sahabat saat kuliah hingga sekarang, orang-orang yang pernah memarahi dan memusuhiku. Tapi dari sekian yang aku kenang, satu yang sangat melekat yakni teman semasa kuliah yang sering membawakan beras ketika aku hampir kelaparan di kost.
Saat itu beras satu liter sangat berarti, sangat bermakna dan sekaligus membuat mataku lembab, terharu ada teman yang bukan satu kampung atau suku ikhlas membantu. Ia sering datang ke kost, tiap datang memeriksa tempat penyimpan berasku, mungkin ia khawatir aku tak ada untuk dimakan. Pertalian persahabatan kadang bisa melompati pertalian darah serta kekeluargaan, itulah cara Tuhan mempertemukan kita dengan orang baik.
Waktu terlalu cepat berputar atau mungkin aku yang terlalu cepat melupakan jasa orang. Sepertinya aku terlalu cepat melupakan manisnya gula kerelaan orang, lalai terhadap kelezatan pemberian orang lain, khilaf mengingat keringanan beban hidup karena bantuan mereka. Seharusnya sekecil apa pun pemberian orang lain penting kita ingat dan kenang sebagai bentuk kepekaan manusiawi, lalu kesalahan orang lain kita lupakan secepatnya. Jika berlaku pada diriku maka kebaikanku harus segera dilupakan dan kesalahan diingat supaya tau arti meminta maaf.
Melangkah maju tetap dipacu lebih cepat, tapi penting juga mengingat langkah yang sudah jejaki. Minimal aku menyadari pernah menginjak apa di tanah, pernah kenal dan menegur siap dalam perjalanan, pernah singgah dimana saja ketika menempuh jarak, singgah makan di warung siapa, pesan kopi yang diseduh oleh penjual yang mana. Ketika kita memanjat pohon tentu kita tak boleh lupa tanah dan batu yang diinjak sebelum naik.
Aku terlalu memacu jalan kedepan hingga minim waktu menoleh ke belakang, ambisi meraih yang belum pasti kadang membuat lupa kenyataan yang sudah diraih dan dimiliki. Demi kemegahan posisi dan jabatan pun lupa pada sahabat yang membantu saat revisi skripsi, mereka yang membantu saat foto copy tugas, kita lupa teman yang membawakan makanan saat belajar untuk ujian akhir, sesungguhnya ada peran mereka di ijazahku. Tapi kini kita hanya menghafal angka saldo di ATM dan nomor induk pegawai saja.
Aku pun lupa sahabat yang dulu satu barisan saat demonstrasi, ketika teriakan jargon perlawanan dan saling bergantian pegang megaphone untuk menyampaikan orasi. Namun demi karir aku menghinanya sekarang, aku merendahkanya, aku membencinya, hanya karena dia konsisten pada sikap yang kami rumuskan bersama dulu. Aku merasa sangat benar ketika orasi dulu, pantang untuk mundur walau dihadapkan dengan pihak keamanan, tapi kini temanku meneriakan hal yang sama dari hasil belajar bersama justru buatku alergi.
Dia gagal melihat masa depan, aku gagal memandang peristiwa ke belakang sebagai pelajaran. Dia dan aku sama-sama gagal, itu pikiranku saja.
_arus narasi_



Comments
Post a Comment