Mata Ibu

La Ndolo Conary

Sunyi, aku terbangun karena mimpi yang tak terkisah dengan jelas, kamar masih gelap dan neon di langit-langit kamar tak kunyalakan. Aku bangun dan bergegas ke jendela, tirai kubuka pelan, gelap yang terhias dari cahaya neon tetangga saja. Aku seperti mencari sesuatu, melihat sisi kiri dan sisi kanan rumah  di atas jendela itu. Tak ada sesuatu pun, cari siapakah aku ini? Tanya itu muncul dalam benakku.

Sepi, aku melihat seorang teman sangat nyenyak tidur, mungkin mimpinya lebih indah. Aku duduk bersandar, melihat handphone, kubuka beberapa foto, kutatap lama beberapa foto dan kulihat berulang-ulang satu foto yang hanya satu saja tersimpan di memori handphone. "Ibu", begitu hatiku melafatnya. Seakan aku tersadar bahwa tadi terbangun karena ada suara ibu yang memanggil.

Ibu, aku melihat matamu yang teduh yang dikelilingi oleh kulit keriput. Sepertiga malam pun biasa bangun untuk memasak dan menyeduh kopi, sesekali menanyakan padaku apakah ingin minum kopi dari seduhannya. Ibu selalu duduk di pintu dan melihatku pergi tanpa banyak rencana awal, begitu pun jika aku pulang sering kutemui ia sedang duduk di pintu. Matanya sahayu dan selalu bertanya apakah aku telah makan atau belum.

Aku selalu gagal memahami isyarat matanya, ambisi duniawi dan segudang keresahan yang tersimpan di dada membuatku jarang di rumah. Aku selalu gagal menerjemah doa di cahaya matanya yang pernah memintaku jadi lelakinya mereka. Aku selalu bilang baik-baik saja, merengek seperti anak kecil mereka ketika meminta sesuatu.

"Kami rindu," terucap di bibirnya. Selama ini aku baru mendengar mereka menyebut rindu, mengucapkannya dengan fasih. Tetapi aku selalu bilang tidak, tak pernah rindu. Rindu telah mengantarku di dunia ini dan kelak akan mengantarku pulang menuju keabadian, rindu denyut jantung dan riak rasa, rindu yakni hembus nafas dalam terjaga maupun terlelap.

Mata ibu, aku menatap di gelapan malam ini. Ibu selalu punya cara memahami aku hanya dengan menyejukan pandangan. Aku kembali ambil bantal, tak disangka butir bening jatuh kena tanganku, aku kembali berbaring memeluk butir bening yang terlepas dari kelopak mataku.

Rindukah aku? Ada yang memahami jika aku menatap foto ibu.

_arus narasi_

Comments

Popular Posts