Maja Labo Dahu


Muhammad Yunus

~~~~~~~~~~~~
Sebuah Refleksi

Seorang anak berpulang ke kampung halamannya. Ia kembali menapaki sebuah negeri, oleh kawan lamanya disematkan sebagai negeri maja labo dahu. Dikenang olehnya seorang kawan lama itu. Kawan yang sempat berbagi kisah ketika harus memilih atau mungkin dipilihkan haluan hidup menepi, merambah jalan sunyi. Begini cakapnya.

Maja labo dahu, itu pintamu padaku. Aku terima kata-kata itu. Meski aku tak cukup mengerti makna yang terkandung didalamnya dan tak ku mengerti pula siapa dan dimana rimba pewarisnya. Aku menerima, sebab tak ada ruang penolakan dalam diri ini. Aku harus mengakui. Aku memang tumbuh dalam balutan sebuah tradisi dimana orang-orang cenderung bicara sendiri, semaunya dan kita diharuskan untuk memiliki kesanggupan mendengar, menerima dan menikmati keadaan itu dengan suka rela. Kita seperti lahir dan bertumbuh dalam potret hidup dimana kita dipaksa, terpaksa, terbiasa dan akhirnya menjadi kebiasaan yang acapkali harus kita maklumi meski jelas dan nyata ada deviasi.

Aku katakan saja ini semacam dogma. Ya, dogma yang ditanamkan dalam diriku. Ia tumbuh dan bertunas dalam kesadaranku, yang sejatinya kesadaran paling lemah lagi rendah. Dan dengan menjalani proses belajar, mendidik diri menjadi pribadi yang aktif bertanya, mengantarkanku pada sebuah sikap dan upaya yang tiada putus untuk bertanya atas apa yang kupahami dan yakini selama ini, termasuk bertanya atas tata nilai maja labo dahu yang kau ucapkan.

Aku bertanya, Apakah makna maja labo dahu? Mengapa maja labo dahu penting dalam hidup ini? bagaimana strategi implementasi maja labo dahu dalam tata ruang kehidupan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini mesti dijawab, bahkan jawabannya bisa dirumuskan secara akademik. Tetapi terus terang, aku belum sanggup menjawabnya. Aku hanya akan bercakap sesuai dengan apa yang aku pikirkan dan rasakan saat ini.

Aku sadar, model rumusan pertanyaan seperti demikian itu hadir melabrak keyakinanku. Sebuah keyakinan dibawah keraguan yang selama ini terlanjur aku terima secara dogmatis dan menghidupi kesadaranku. Kini, yang aku butuhkan adalah keyakinan diatas keraguan, yakni sebuah model keyakinan yang melintasi-melampaui batas-batas keraguan.

Pertanyaan-pertanyaan yang lahir tadi anggaplah sebagai buah dari perjumpaan cahaya pengetahuan. Bahwa yang menerangi diri hanyalah pemberian dari yang maha mengetahui. Pemberian dari yang Maha pemberi. Pertanyaan-pertanyaan tadi berpangkal dari pancaran langsung atas keyakinan kerena ilmu. Keyakinan ini mengantarkan pada kehadiran keyakinan karena persaksian, kemudian melebur-menyatu-menunggal dalam keyakinan yang sebenar-benarnya.

Aku yakin karena aku tahu tentang apa itu maja labo dahu. Aku yakin karena aku saksikan maja labo dahu. Aku yakin dengan sebenar-benarnya yakin.

Keyakinan karena aku tahu maja labo dahu adalah jembatan untuk sampai pada bentuk keyakinan karena menyaksikan maja labo dahu hadir sebagai konsep hidup dalam diri yang utuh. Sebagai konsep kunci diri yang hidup di tengah alam dan masyarakat. Dan pada akhirnya melebur dalam kesejatian maja labo dahu yang sebenar-benarnya.

Sudahkah diri ini sampai pada maja labo dahu yang sebenar-benarnya? Hanya akal sehat dan hati yang ada cahaya Tuhan sanggup menjawabnya.

Sebagai sebuah nilai, Maja labo dahu merupakan tata nilai guna menopang hidup budaya. Nilai maja labo dahu melembaga dalam tradisi, menjadi ikatan secara turun temurun bagi para pewaris keluhuran untuk menapaki kemajuan peradaban negeri maja labo dahu.

Dalam percakapan lain, maja labo dahu adalah "kebutuhan" diri. Maja labo dahu sebagai kebutuhan, rasa-rasanya lebih ringan untuk diterima dan dijalani. Frasa "kebutuhan" memantik struktur kesadaran diri untuk menjalani hidup dan berpegang pada nilai maja labo dahu. Menghadirkan maja labo dahu sebagai kebutuhan secara kodrati cenderung pada keikhlasan, bukan keterpaksaan.

Maja labo dahu kupercayai sebagai mantra suci. Ia hadir dari diri yang suci dan dibacakan dalam setiap percakapan suci, membentuk sikap batin yang utuh dan menjadi pucuk keteladanan diri bagi segenap diri yang lain. Sebagaimana aku yang hina menyerap keteladanan itu darinta. Maja labo dahu bukan untuk memaklumi dan melegitimasi kejahatan dan ketidakadilan yang terlukiskan secara sistemik.

Maja labo dahu selalu dihadirkan sebagai pesan agung warisan para leluhur, yang tentu saja menyemai keluhuran sikap dalam melintasi jagat kesemestaan. Maja labo dahu lazimnya diberi arti malu dan takut. Rasa Malu dan takut harus hadir dalam hidup yang dijalani di tengah alam dan masyarakat.

Namun aku acapkali menikmati kesendirian diri. Aku menepi, menempuh jalan sunyi. Aku malu dan takut jika tak mengerti tentang kedirianku, asal mulaku dan kemana aku akan kembali berpulang. Malu dan takut ini aku alamatkan untuk diriku sendiri yang hina dina dihadapan Pemilik Diri.

Aku lahir bersama kekayaan kasih, tetapi pada saat yang sama miskin materi. Kemiskinan menjadi hantu yang menakutkan. Malu disertai takut rasanya diri ini ketika menjadi pribadi miskin. Tapi berkat belajar aku mengerti. Miskin materi hanyalah kemiskinan yang paling rendah. Aku mesti malu jika miskin malu atau bahkan tak tahu dan tak punya malu. Sebab miskin malu atau tak tahu dan tak punya malu bukan hanya berbahaya, tapi akan membuat kita terhenti menjadi manusia. Setidak-tidaknya kita terhenti menjadi manusia dikala kita tak tahu malu.

Rasa malu dan rasa takut adalah kekayaan bagi kemanusiaan. Rasa malu dan takut hadir untuk tidak mengabaikan Tuhan hadir dalam setiap kenyataan, hadir dalam pikiran dan perbuatan, hadir dalam kebenaran, kebajikan dan kebijakan. Rasa malu harus terus hidup dan bercakap-cakap dengan diri dari kedalaman kesadaran batin. Rasa malu harus mengendalikan setiap langkah yang ditempuh dalam hidup. Rasa malu hadir untuk merasakan kehadiran diri sendiri. Rasa malu pun hadir untuk merasakan kehadiran orang lain, merasakan kehadiran mahluk lain yang lahir, tumbuh dan hidup bersama dengan diri dan berbagi dalam harmoni.

Aku dan kau hidup berkeluarga. Keluarga adalah unsur terkecil dari masyarakat. Keluarga adalah rumahku, tempat asal dan berpulangku. "Rumahku surgaku" Demikian sabda yang mulia muhammad saw. Rumah mengandaikan sebuah kehidupan yang didalamnya bersemayam cinta, kasih sayang, kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Tanpa itu semua, maka yang kita tinggali bukanlah rumah, tetapi neraka.

Apabila kau dan aku sekedar hidup dalam kotak bangunan yang disusun dari batang-batang kayu atau hidup dibalik tembok yang dibangun dari campuran semen dan pasir, batu bata serta batu semata. Sejatinya ini melukiskan potret diri yang sedang menjalani hidup di neraka. Karenanya secara kodrati kita selalu ingin hijrah.

Hijrah secara kodrati menghendaki diri untuk terus beranjak menuju tatanan yang normal. Hijrah dari neraka menuju surga kehidupan. Diri kita hijrah pada setiap yang menjadi rumah laksana surga, pada setiap yang memberi kesempatan kepada diri untuk hidup dalam balutan cinta, kasih sayang, keceriaan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Aku Malu juga takut hidup didalam lobang-lobang api. Aku malu dan takut jika tak hijrah menuju asal dan tujuan dari segala kenyaataan. Aku malu, aku takut. Rasa malu dan takut mengabadi untuk-Nya semata. Sebagai wakilnya, aku berjalan atas namaNya, hadir untuk memakmurkan, bukan memiskinkan. Tetapi apakah diri ini sanggup? Entahlah. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Maja labo dahu kini aku benamkan sebagai do'a yang aku panjatkankan untuk diri. Ia bagaikan mantra sakti yang selalu mengendalikan diri, menghadirkan kesadaran pada kenyataan hidup yang harus dilalui. Pada Pahit getirnya hidup yang harus dijalani, maja labo dahu harus terus di pegang teguh.

Aku tak ingin lama disini. Telah tiba waktu untuk aku yang hina ini hijrah kembali. Semoga Jadi.

Mbojo, 11-11-2020

Comments

Post a Comment

Popular Posts