Tiada kan Joki Cilik Tak Ada Yang Hilang

Budaya pacuan kuda tradisional di Bima NTB, bisa dibilang telah ada sejak saya belum terpikirkan untuk dilahirkan. Hal itu merupakan corak atau suatu identitas budaya Bima dari sekian banyaknya budaya dan adat istiadat Mbojo.
Para Joki Cilik

Jika joki cilik adalah tradisi, kenapa tidak kita lepaskan tradisi tersebut. Tradisi yang menurut orang-orang terdahulu merupakan suatu hal positif atau bahkan ada yang mendeskripsikannya sebagai bentuk evolusi dari jaman purba menuju era transformasi hari ini terkait joki cilik itu.

Meniadakan para joki cilik, hemat saya tidak menghilangkan budaya kita. Tidak juga mengganti corak identitas budaya bima dalam hal Pacuan Kuda tradisional. Sebab, joki cilik ini dikatakan sebagai tradisi. Jadi tradisi dalam pandangan sederhana saya, ada tradisi yang baik atau positif ada juga yang tidak. Dan terkadang bisa juga dikatakan relatif positif dan negatifnya.

Sederhananya, saya merujuk pada kemajuan dan perubahan jaman. Jadi tradisi itu dikatakan positif pada jamannya dan dikatakan negatif berada pada jamannya juga. Hematnya seperti itu. Saya garis bawahi sebelum membias juga dalam menanggapi hal diatas, jadi yang saya maksud itu Joki Ciliknya bukan Pacuan Kuda Tradisional atau Budaya.

Artinya, jika jaman dulu joki cilik ini merupakan tradisi yang positif. Wajar karena pada jaman dulu orang-orang belum berada pada jaman seperti sekarang ini yang sudah ditetapkan secara hukum negara walaupun dari dulu juga sudah ada ditetapkan melalui aturan-aturan alam terkait hak dan perlindungan seorang anak.

Nah, tradisi yang dianggap positif pada jaman itu, kini dinilai negatif. Karena, kesadaran manusia sesuai perubahan berdasarkan Ilmu pengetahuan. Bahwa, hal itu sangat membahayakan keselamatan mereka. Sehingga, segalanya dapat terputus dan berakhir di atas punggung kuda. Padahal, mereka harus mengenyam dunia pendidikan, mempelajari tentang teknologi, sains dan lain-lain untuk kedepannya. Tapi hal itu terputus oleh sebuah tradisi yang kita namakan sebagai entitas budaya tapi kita lupa bahwa masih ada yang jauh lebih besar dari persoalan itu terkait keberadaan generasi ini atau si joki-joki cilik tersebut.

Jika hal itu dikatakan hobi mereka, paling tidak ingatkan terhadapnya. Bahwa hobi tersebut cukup membahayakan keselamatan dan kesehatan seorang anak. Dan berikan pemahaman, lakukan pendekatan persuasif sehingga seorang anak dapat memahami dan menerima baik. Bahwa, baiknya seorang anak jangan melakukan hal yang membahayakan diri mereka sendiri tersebut.

Tiada kan Joki Cilik, Budaya tidak akan ada yang hilang dan akan tetap dapat dilestarikan walau tanpa Joki Cilik dengan pertimbangan demi keberlanjutan generasi.

Berhenti mengutuk generasi!!!

Bima, 18 Oktober 2019

Bang Rektor Al Fatih
             TTD

Comments

Popular Posts