Titik Nadir Reformasi





Oleh : Apriyawan

Temanku ditembak mati,
Temanku dilindas mobil polisi,
Temanku ada yang hilang dicuri,
Negeriku negeri para pembunuh anak negeri.

Pemimpinnya bebal sekali,
Rasa cinta dan empatinya pada anak negeri mati,
Padahal sudah terjadi berkali-kali,
Ada yang berdarah bahkan ada yang hampir mati.

Kini aku bersuara dianggap memprovokasi,
Lalu aku diam dianggap tak ada rasa peduli,
Bodoh sekali pemimpinku ini,
Tidak ada otak dan juga hati.

Kini reformasiku di kebiri,
Kebebasan berekspresi dianggap pengacau negeri,
Dia malah asik selfie,
Diikuti para badut-badutnya sambil ketawa-ketiwi.

Tak lihat gas air mata menyemprot kami berkali2.
Tak lihat peluru tajam hampir mengenai jantung kami,
Tak lihat demokrasi dirusak para babi,
Dia sering bicara demokrasi begini-begini,
Tapi sifatnya represif sekali,
Demokrasi seperti digunting oligarki.

Ibu pertiwi air matanya mengaliri disetiap titik penjuru negeri,
Menangisi anak negeri yang berkelahi,
Sebab pemimpinnya yang suka ngevlog dan selfie,
Dianggapnya lucu segala tragedi yang terjadi.

Aku duduk memandangi berita-berita di televisi
Terbakar masak, terkena kampak, terpanah anak negeri.
Ada apa negeriku yang dulu dikenal macan asia ini
Kini berubah drastis tak lagi berarti.

Air mata reformasi dipalu Si Tangan Besi,
Sakit sekali hatiku melihat ini,
Sakit sekali rakyat yang merasakannya ini,
Soekarno pasti bermuram durja melihat indonesiaku di tangan para babi.

Comments

  1. 😓😓😓😓😓😓😓😭

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts