Seekor Anjing dan Seorang Petani
Hujan deras baru usai menyiram tanaman petani. Padi, jagung, kedelai, dan sayur-sayuran, daunnya kembali mendongak setelah lima hari digoreng oleh sinar matahari. Kampung pun sangat becek, sebagian air masih tergenang Seekor Anjing dan Seorang Petani beberapa lubang jalan yang rusak. Ketika musim hujan orang di kampung bercocok tanam, walau sebagian dari mereka berstatus PNS. Tetapi kebiasaan mereka sebagai masyarakat agraria sulit ditinggalkan, mulai pagi hingga siang mereka ke ladang, sore pulang istirahat, namun ada juga sebagian yang bermalam di ladang.
La Ndolo Conary
Pak Amir jarang tidur di kampung selama musim hujan, ia menginap di ladangnya, kecuali hari Jum’at dia akan berangkat sholat berjamaah di masjid. Istrinya tak ikut Pak Amir untuk tidur menjaga tanaman, sebab dia temani kedua anaknya yang masih sekolah, anaknya yang lelaki masih berseragam merah-putih dan perempuan sedang mengikuti pelajaran kelas dua SMP. Sore Jum’at Pak Amir berjalan menuju ladang, memikul beras dan sayur, kemudian seekor anjingnya mengikuti dari belakang, kadang anjing itu Seekor Anjing dan Seorang Petani diri, menggerakan ekornya hampir menyentuh kaki Pak Amir. Anjing jantan hitam yang sering diajak Pak Amir, tiga tahun lalu dia ambil di tempat pembuangan sampah, saat itu seekor anjing kecil sedang merengek sendirian di pinggir jalan.
Pak Amir sering juga emosi mengurus anjingnya, tapi di lain sisi ia membutuhkan anjing untuk berburu babi yang merusak padi dan jagungnya. Jika musim perburuan datang, ia ikut mengajak anjing untuk mengejar rusa. Sudah seringkali anjingnya mempermudahnya menangkap rusa, hasil buruan bisa dijual untuk penuhi kebutuhan, seperti beli seragam anaknya, sisanya mereka makan dan berbagi dengan tetangga.
“Ini bagian kamu, makanlah,” ia melempar sepotong daging kepada anjing.
Pak Amir bicara dengan anjingnya, katanya setiap yang rajin pasti mendapat imbalan. Akan dihargai semua keringat yang dikeluarkan, hanya saja tak ada naik jabatan atau pangkat seperti manusia yang menjalankan tugas dengan baik di kantor. Setangguh apapun anjing mengejar buruan tak akan merubah statusnya, sebanyak apapun anjing menangkap rusa tak membuat mendapat piagam penghargaan, kecuali potongan daging sesuai kerelaan tuannya, kadang hanya sepotong tulang juga.
“Tapi kau harus bersyukur bisa makan yang layak, memakan yang sama jenis dengan makanan tuanmu. Lihat temanmu di rumah Pak Ilyas, dikasih tulang dan nasi sisa yang sudah basi,” kata Pak Amir menasihati anjing dengan lembut.
Anjing diam, ekornya gerak.
“Malam kamu harus rajin, menangkap babi yang merusak tanaman kita. Kalau kamu dapat, bisa makan sepuasnya. Tak akan berbagi denganku, kecuali kau ingin mengajak betinamu. Itu terserah kau saja, kau enak sekali, apabila aku makan ikan kau pun ikut lahap, begitu juga semua makanan yang kucicipi,” diperingatinya Anjing, semakin tegas.
Anjing diam, kepalanya bergerak kiri-kanan, suara kepakan telinganya terdengar.
“Sudah malam. Aku mau nyalakan api dulu, kamu jangan pergi jauh-jauh. Awas!.”
“Goug…goug,” kali ini anjing bersuara.
Dingin merangsek tubuh Pak Amir, selimut yang dibeli istrinya sebulan yang lalu diraihnya. Hanya kepala yang terlihat, seluruh tubuhnya dibungkus dengan selimut. Dalam kedinginan ia memikirkan nasib anaknya nanti, apakah anak lelakinya akan menjadi petani seperti dirinya, setiap hari hanya menggaruk kulit karena gatal. Lalu anak perempuan akan menikah setelah ujian SMP, seperti kebanyakan anak-anak di kampungnya. Di hati kecilnya, menolak semua itu. Tidak.
Tekad Pak Amir tak main-main untuk sekolahkan kedua anaknya. Kerbau, kuda, dan kambing akan dijualnya jika suatu saat anaknya perlu bianya sekolah. Ia tak ingin mengikuti kebanyakan orang di kampungnya, bertani dan berternak hanya ingin naik haji. Hal semacam itu tak pernah terlintas dalam pikiranya. Tak ada sedikit pun. Ia tak ingin anaknya bernasib sama dengan anak Pak Amrin, tak seorang pun yang tamat SMA. Padahal dulu Pak Amrin yang paling banyak ternak dan tanahnya, dia termasuk orang kaya di kampungnya, tapi kekayaannya dijual untuk pergi haji bersama istrinya.
Di kampung Savana bisa dihitung jari putra-putri yang sekolah lanjut ke perguruan tinggi. Di dusun ujung ada tiga orang dan di kampung tengah empat orang, tapi kabar yang beredar seorang wanita-mahasiswi pulang menikah karena ada suatu hal yang terjadi, hamil isyarat berita itu. Duanya lagi putus sekolah disebabkan oleh kondisi ekonomi, terperangkap kemiskinan. Kenyataan yang terjadi tak membunuh niat Pak Amir yang ingin sekolahkan anaknya mendekati jejak anaknya Pak Ruslan.
Anak lelaki Pak Ruslan yang bernama Arif, semenjak kuliah banyak perubahannya. Saat pulang libur dua bulan yang lalu sudah berani mengkritik kebobrokan aparat Desa. Seingat Pak Amir, Arif setahun yang lalu berangkat kuliah, tapi dia sangat cerdas dan berani. Banyak kegiatan yang dilakukan Arif untuk mengajak rekannya maupun anak-anak lain ke arah yang positif. Arif menjadi buah-bibir orang di kampung, ada yang setuju dan ada pula yang mencaci, tapi mereka yang benci itu diantaranya keluarganya aparat Desa.
“Jangan sia-siakan uang kami. Saya kirim kamu untuk kuliah agar tau yang benar dan salah. Seandainya yang kamu bicarakan itu benar. Saya akan ajak masyarakat untuk mendukungmu,” kata Pak Ruslan pada anaknya, tegas dan semangat.
“Tak akan saya kecewakan, Bapak. Saya siap menjelaskan semua yang terjadi dikampung kita. Selama ini kita ditipu,” jawab Arif.
“Saya percaya kamu,” ucap Pak Ruslan.
“Restui anakmu, Bapak. Doa kalian akan membantu untuk kelancarannya perjuangan ini,” Arif memohon.
Malam itu Pak Ruslan menasehati anaknya dengan kata-kata bijak para tetua, Arif hanya mendengar-mengambil hikmah dari deret penyampaian bapaknya. Suara gonggongan anjing di beberapa ladang mulai ramai, ibarat orang saling memanggil dari jauh. Anjing hitam milik Pak Amir ikut menggonggong, tapi tak bergeser di kolong gubuknya.
“Hussy,” Pak Amir menyuruh anjingnya masuk ke ladang, selidiki ada babi yang masuk.
Anjingnya belum bergerak.
“Hussy. Hussy.”
Tak juga bergegas, anjing berbunyi ditempatnya.
“Dasar Anjing,” ketus Pak Amir. “Hussy. Pergi sana,” diusirnya anjing dengan suara keras. Ia turun dari gubuknya, dilemparinya anjing itu. Tak lama anjing itu berlari hilang dalam rumpun padi dan jagung.
“Anjing tak tau diuntung. Disajikan makanan yang sama tetap juga malas. Matanya melotot kegirangan saat kenyang melahap daging segar, setelah selesai kembali tidur lelap. Dasar malas, dasar anjing!” Pak Amir marah-marah.
Ia mengingat ucapan Arif saat protes pemangku Desa, mereka hanya semangat kalau bicara proyek. Matanya bercahaya-cahaya jika angka uang dibaca, namun giliran urus kelaparan rakyatnya saling lempar, banyak alasan yang dibolak-balik.
“Kayak anjing saja pejabat itu. Kenyang bersuara!” Pak Amir tertawa jijik dalam hatinya.
Pikiran Pak Amir melayang ke angkasa, ia membayangkan wajah putrinya kelak dewasa. Jadi orang pintar dan berani, menekuni kepribadian Arif. Jika nanti putrinya jadi kuliah dan meraih gelar, akan menikahkan dengan Arif. Tak mau anaknya mengenal lelaki yang goblok walau seorang kaya raya. Ilmu bagai sebuah perahu penyelamat dalam gelombang yang deras, pikirnya.
Di ujung kampung Pak Ruslan hampir berantam, tak ingin anaknya diolok-olok oleh orang lain. Hanya karena persoalan berani bersikap jujur untuk kebenaran.
“Akan saya robek mulutmu,” ancamnya pada Pak Samir, seorang kepala dusun.
“Ayo, maju kalau berani,” Pak Samir menantang balik.
“Saya tak takut. Untuk apa takut sama penipu.”
“Apa? Emang saya tipu punya moyangmu.”
“Diam kau,” bentak Pak Ruslan.
“Awas, kamu. Anakmu akan menghadapi masalah besar, kini berhadapan dengan saya. Ingat itu!,” kata kepala dusun sambil menunjuk mukanya Pak Ruslan. Kemudian ia berjalan pulang ke rumahnya.
“Silahkan kalau berani. Saya tunggu.”
Sore itu keadaan kampung tegang, setelah orang berhamburan menonton kedua masyarakatnya yang hampir perang. Selama ini orang-orang di kampung Savana sudah terbiasa berantam, saling pukul dan bahkan terluka diparangi. Tapi kali ini masalah yang dipertentangkan oleh Pak Ruslan dengan Pak Samir sangat beda dari yang sering terjadi, pertengkaran mereka menyangkut aib jabatan, kata Pak Doni saat itu. Kalau sengketa tanah dan masalah ternak yang masuk ke ladang dan kebun, sudah langganan tiap tahun.
Menurut orang di kampung Savana aib jabatan sangat sakral, apalagi mengancam posisinya yang empuk. Pak Amir pagi-pagi dibangunkan oleh lonceng sapinya yang sudah berdiri di belakang pagar. Rumput yang bertumpuk sejak kemarin sore dilemparnya keluar, anjing hitamnya setia mengekor di belakang.
“Hussy. Sana. Tak sudi aku urus makananmu. Pemalas. Kamu mirip pejabat itu, menggonggong jika ada jatah. Memalukan,” celotehnya pagi itu pada anjing.
“Kamu tau, jalan dikampung kita berlubang dan becek, tak pernah diaspal. Jembatan tak dibuat dari semen, hanya dibuat dari papan dan bambu seadanya,” Pak Amir bicara sendiri saja.
Anjing menggarukan punggungnya di pagar dan sapi enak mengunyah rumput.
“Kau lihat, rumah-rumah di kampung banyak yang mau roboh. Atap Masjid bocor dan temboknya sudah kelihatan batu batanya. Pejabat hanya datang foto setiap tahun, bagai itu pemandangan yang indah. Sementara kita hanya angguk saja ketika ada perintah, tak ada keberanian untuk membantah, minimal bertanya saja. Tapi saat ada anak kita, orang yang lahir di kampung kita, yang meluruskan persoalan justru kita sendiri yang hardik dan menghinanya,” Pak Amir seolah bicara di hadapan orang banyak kepada anjing dan sapinya.
Embun berjatuhan mengiringi mentari yang beranjak dewasa, menuju siang-berterik. Pak Amir memasuki gubuk untuk makan pagi.
Semenjak ayahnya ingin berantam, Arif semakin giat belajar di rantauan. Ia tak marah pada orang yang mengoloknya, tak terbesit dendam pada Pak Samir yang ingin menghantam ayahnya. Arif pernah meneteskan air mata, suatu ketika saat pulang kampung melihat seorang anak tiga tahun lebih yang menangis-merengek agar dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Anak kecil itu punya keinginan agar sederajat dengan anak-anak lain, keseringan melihat temannya berputar sepeda di depan rumahnya tentu muncul kemauan itu. Arif cukup mengenang, wajah ibu anak itu yang terpaksa senyum menghibur anaknya, dia janjikan akan beli setelah hasil panen laku. Kehidupan mereka sangat prihatin, menetap di rumah panggung enam tiang dan berdindingkan anyaman bambu. Sungguh rumah dan kehidupan ibu-anak itu berantakan.
Himpitan peristiwa yang mengguncangnya, kala libur tiba, Arif pulang kampung untuk menjumpai keluarga dan kerabatnya. Ia banyak dididik oleh pengalaman sehingga semakin dewasa, pengalaman yang menderanya, membuat Arif rindu kepada sosok neneknya yang di masa kecil pernah mengasuhnya. Tapi saat umurnya sembilan tahun, neneknya dipanggil oleh Tuhan kehariban-Nya, dikuburkan di gunung bekas kampung yang lama, berjarak sekitar sepuluh kilo.
Rindu itu tak terbendung lagi, Arif berjalan untuk menuju pusara neneknya. Sendiri menapaki setapak yang gusar, hanya ingin memegang nisan kerinduan itu. Ada semangat yang tertuang dalam kasih sayang neneknya, walau pada saat itu belum memahami tata bahasa secara mendalam. Arif hanya ingin mengadu pada pusaran yang bernafas rindu, tak ada bantahan dan komentar. Ia hanya datang belajar seteguh neneknya yang membesarkan tujuh anaknya tanpa suami. Itu masih terbaca dalam nama di nisanya. Sangat jelas terlihat.[]
*Pegiat Sosial dan Awardee Pemprov NTB ke Malaysia.
La Ndolo Conary
Pak Amir jarang tidur di kampung selama musim hujan, ia menginap di ladangnya, kecuali hari Jum’at dia akan berangkat sholat berjamaah di masjid. Istrinya tak ikut Pak Amir untuk tidur menjaga tanaman, sebab dia temani kedua anaknya yang masih sekolah, anaknya yang lelaki masih berseragam merah-putih dan perempuan sedang mengikuti pelajaran kelas dua SMP. Sore Jum’at Pak Amir berjalan menuju ladang, memikul beras dan sayur, kemudian seekor anjingnya mengikuti dari belakang, kadang anjing itu Seekor Anjing dan Seorang Petani diri, menggerakan ekornya hampir menyentuh kaki Pak Amir. Anjing jantan hitam yang sering diajak Pak Amir, tiga tahun lalu dia ambil di tempat pembuangan sampah, saat itu seekor anjing kecil sedang merengek sendirian di pinggir jalan.
Pak Amir sering juga emosi mengurus anjingnya, tapi di lain sisi ia membutuhkan anjing untuk berburu babi yang merusak padi dan jagungnya. Jika musim perburuan datang, ia ikut mengajak anjing untuk mengejar rusa. Sudah seringkali anjingnya mempermudahnya menangkap rusa, hasil buruan bisa dijual untuk penuhi kebutuhan, seperti beli seragam anaknya, sisanya mereka makan dan berbagi dengan tetangga.
“Ini bagian kamu, makanlah,” ia melempar sepotong daging kepada anjing.
Pak Amir bicara dengan anjingnya, katanya setiap yang rajin pasti mendapat imbalan. Akan dihargai semua keringat yang dikeluarkan, hanya saja tak ada naik jabatan atau pangkat seperti manusia yang menjalankan tugas dengan baik di kantor. Setangguh apapun anjing mengejar buruan tak akan merubah statusnya, sebanyak apapun anjing menangkap rusa tak membuat mendapat piagam penghargaan, kecuali potongan daging sesuai kerelaan tuannya, kadang hanya sepotong tulang juga.
“Tapi kau harus bersyukur bisa makan yang layak, memakan yang sama jenis dengan makanan tuanmu. Lihat temanmu di rumah Pak Ilyas, dikasih tulang dan nasi sisa yang sudah basi,” kata Pak Amir menasihati anjing dengan lembut.
Anjing diam, ekornya gerak.
“Malam kamu harus rajin, menangkap babi yang merusak tanaman kita. Kalau kamu dapat, bisa makan sepuasnya. Tak akan berbagi denganku, kecuali kau ingin mengajak betinamu. Itu terserah kau saja, kau enak sekali, apabila aku makan ikan kau pun ikut lahap, begitu juga semua makanan yang kucicipi,” diperingatinya Anjing, semakin tegas.
Anjing diam, kepalanya bergerak kiri-kanan, suara kepakan telinganya terdengar.
“Sudah malam. Aku mau nyalakan api dulu, kamu jangan pergi jauh-jauh. Awas!.”
“Goug…goug,” kali ini anjing bersuara.
Dingin merangsek tubuh Pak Amir, selimut yang dibeli istrinya sebulan yang lalu diraihnya. Hanya kepala yang terlihat, seluruh tubuhnya dibungkus dengan selimut. Dalam kedinginan ia memikirkan nasib anaknya nanti, apakah anak lelakinya akan menjadi petani seperti dirinya, setiap hari hanya menggaruk kulit karena gatal. Lalu anak perempuan akan menikah setelah ujian SMP, seperti kebanyakan anak-anak di kampungnya. Di hati kecilnya, menolak semua itu. Tidak.
Tekad Pak Amir tak main-main untuk sekolahkan kedua anaknya. Kerbau, kuda, dan kambing akan dijualnya jika suatu saat anaknya perlu bianya sekolah. Ia tak ingin mengikuti kebanyakan orang di kampungnya, bertani dan berternak hanya ingin naik haji. Hal semacam itu tak pernah terlintas dalam pikiranya. Tak ada sedikit pun. Ia tak ingin anaknya bernasib sama dengan anak Pak Amrin, tak seorang pun yang tamat SMA. Padahal dulu Pak Amrin yang paling banyak ternak dan tanahnya, dia termasuk orang kaya di kampungnya, tapi kekayaannya dijual untuk pergi haji bersama istrinya.
Di kampung Savana bisa dihitung jari putra-putri yang sekolah lanjut ke perguruan tinggi. Di dusun ujung ada tiga orang dan di kampung tengah empat orang, tapi kabar yang beredar seorang wanita-mahasiswi pulang menikah karena ada suatu hal yang terjadi, hamil isyarat berita itu. Duanya lagi putus sekolah disebabkan oleh kondisi ekonomi, terperangkap kemiskinan. Kenyataan yang terjadi tak membunuh niat Pak Amir yang ingin sekolahkan anaknya mendekati jejak anaknya Pak Ruslan.
Anak lelaki Pak Ruslan yang bernama Arif, semenjak kuliah banyak perubahannya. Saat pulang libur dua bulan yang lalu sudah berani mengkritik kebobrokan aparat Desa. Seingat Pak Amir, Arif setahun yang lalu berangkat kuliah, tapi dia sangat cerdas dan berani. Banyak kegiatan yang dilakukan Arif untuk mengajak rekannya maupun anak-anak lain ke arah yang positif. Arif menjadi buah-bibir orang di kampung, ada yang setuju dan ada pula yang mencaci, tapi mereka yang benci itu diantaranya keluarganya aparat Desa.
“Jangan sia-siakan uang kami. Saya kirim kamu untuk kuliah agar tau yang benar dan salah. Seandainya yang kamu bicarakan itu benar. Saya akan ajak masyarakat untuk mendukungmu,” kata Pak Ruslan pada anaknya, tegas dan semangat.
“Tak akan saya kecewakan, Bapak. Saya siap menjelaskan semua yang terjadi dikampung kita. Selama ini kita ditipu,” jawab Arif.
“Saya percaya kamu,” ucap Pak Ruslan.
“Restui anakmu, Bapak. Doa kalian akan membantu untuk kelancarannya perjuangan ini,” Arif memohon.
Malam itu Pak Ruslan menasehati anaknya dengan kata-kata bijak para tetua, Arif hanya mendengar-mengambil hikmah dari deret penyampaian bapaknya. Suara gonggongan anjing di beberapa ladang mulai ramai, ibarat orang saling memanggil dari jauh. Anjing hitam milik Pak Amir ikut menggonggong, tapi tak bergeser di kolong gubuknya.
“Hussy,” Pak Amir menyuruh anjingnya masuk ke ladang, selidiki ada babi yang masuk.
Anjingnya belum bergerak.
“Hussy. Hussy.”
Tak juga bergegas, anjing berbunyi ditempatnya.
“Dasar Anjing,” ketus Pak Amir. “Hussy. Pergi sana,” diusirnya anjing dengan suara keras. Ia turun dari gubuknya, dilemparinya anjing itu. Tak lama anjing itu berlari hilang dalam rumpun padi dan jagung.
“Anjing tak tau diuntung. Disajikan makanan yang sama tetap juga malas. Matanya melotot kegirangan saat kenyang melahap daging segar, setelah selesai kembali tidur lelap. Dasar malas, dasar anjing!” Pak Amir marah-marah.
Ia mengingat ucapan Arif saat protes pemangku Desa, mereka hanya semangat kalau bicara proyek. Matanya bercahaya-cahaya jika angka uang dibaca, namun giliran urus kelaparan rakyatnya saling lempar, banyak alasan yang dibolak-balik.
“Kayak anjing saja pejabat itu. Kenyang bersuara!” Pak Amir tertawa jijik dalam hatinya.
Pikiran Pak Amir melayang ke angkasa, ia membayangkan wajah putrinya kelak dewasa. Jadi orang pintar dan berani, menekuni kepribadian Arif. Jika nanti putrinya jadi kuliah dan meraih gelar, akan menikahkan dengan Arif. Tak mau anaknya mengenal lelaki yang goblok walau seorang kaya raya. Ilmu bagai sebuah perahu penyelamat dalam gelombang yang deras, pikirnya.
Di ujung kampung Pak Ruslan hampir berantam, tak ingin anaknya diolok-olok oleh orang lain. Hanya karena persoalan berani bersikap jujur untuk kebenaran.
“Akan saya robek mulutmu,” ancamnya pada Pak Samir, seorang kepala dusun.
“Ayo, maju kalau berani,” Pak Samir menantang balik.
“Saya tak takut. Untuk apa takut sama penipu.”
“Apa? Emang saya tipu punya moyangmu.”
“Diam kau,” bentak Pak Ruslan.
“Awas, kamu. Anakmu akan menghadapi masalah besar, kini berhadapan dengan saya. Ingat itu!,” kata kepala dusun sambil menunjuk mukanya Pak Ruslan. Kemudian ia berjalan pulang ke rumahnya.
“Silahkan kalau berani. Saya tunggu.”
Sore itu keadaan kampung tegang, setelah orang berhamburan menonton kedua masyarakatnya yang hampir perang. Selama ini orang-orang di kampung Savana sudah terbiasa berantam, saling pukul dan bahkan terluka diparangi. Tapi kali ini masalah yang dipertentangkan oleh Pak Ruslan dengan Pak Samir sangat beda dari yang sering terjadi, pertengkaran mereka menyangkut aib jabatan, kata Pak Doni saat itu. Kalau sengketa tanah dan masalah ternak yang masuk ke ladang dan kebun, sudah langganan tiap tahun.
Menurut orang di kampung Savana aib jabatan sangat sakral, apalagi mengancam posisinya yang empuk. Pak Amir pagi-pagi dibangunkan oleh lonceng sapinya yang sudah berdiri di belakang pagar. Rumput yang bertumpuk sejak kemarin sore dilemparnya keluar, anjing hitamnya setia mengekor di belakang.
“Hussy. Sana. Tak sudi aku urus makananmu. Pemalas. Kamu mirip pejabat itu, menggonggong jika ada jatah. Memalukan,” celotehnya pagi itu pada anjing.
“Kamu tau, jalan dikampung kita berlubang dan becek, tak pernah diaspal. Jembatan tak dibuat dari semen, hanya dibuat dari papan dan bambu seadanya,” Pak Amir bicara sendiri saja.
Anjing menggarukan punggungnya di pagar dan sapi enak mengunyah rumput.
“Kau lihat, rumah-rumah di kampung banyak yang mau roboh. Atap Masjid bocor dan temboknya sudah kelihatan batu batanya. Pejabat hanya datang foto setiap tahun, bagai itu pemandangan yang indah. Sementara kita hanya angguk saja ketika ada perintah, tak ada keberanian untuk membantah, minimal bertanya saja. Tapi saat ada anak kita, orang yang lahir di kampung kita, yang meluruskan persoalan justru kita sendiri yang hardik dan menghinanya,” Pak Amir seolah bicara di hadapan orang banyak kepada anjing dan sapinya.
Embun berjatuhan mengiringi mentari yang beranjak dewasa, menuju siang-berterik. Pak Amir memasuki gubuk untuk makan pagi.
Semenjak ayahnya ingin berantam, Arif semakin giat belajar di rantauan. Ia tak marah pada orang yang mengoloknya, tak terbesit dendam pada Pak Samir yang ingin menghantam ayahnya. Arif pernah meneteskan air mata, suatu ketika saat pulang kampung melihat seorang anak tiga tahun lebih yang menangis-merengek agar dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Anak kecil itu punya keinginan agar sederajat dengan anak-anak lain, keseringan melihat temannya berputar sepeda di depan rumahnya tentu muncul kemauan itu. Arif cukup mengenang, wajah ibu anak itu yang terpaksa senyum menghibur anaknya, dia janjikan akan beli setelah hasil panen laku. Kehidupan mereka sangat prihatin, menetap di rumah panggung enam tiang dan berdindingkan anyaman bambu. Sungguh rumah dan kehidupan ibu-anak itu berantakan.
Himpitan peristiwa yang mengguncangnya, kala libur tiba, Arif pulang kampung untuk menjumpai keluarga dan kerabatnya. Ia banyak dididik oleh pengalaman sehingga semakin dewasa, pengalaman yang menderanya, membuat Arif rindu kepada sosok neneknya yang di masa kecil pernah mengasuhnya. Tapi saat umurnya sembilan tahun, neneknya dipanggil oleh Tuhan kehariban-Nya, dikuburkan di gunung bekas kampung yang lama, berjarak sekitar sepuluh kilo.
Rindu itu tak terbendung lagi, Arif berjalan untuk menuju pusara neneknya. Sendiri menapaki setapak yang gusar, hanya ingin memegang nisan kerinduan itu. Ada semangat yang tertuang dalam kasih sayang neneknya, walau pada saat itu belum memahami tata bahasa secara mendalam. Arif hanya ingin mengadu pada pusaran yang bernafas rindu, tak ada bantahan dan komentar. Ia hanya datang belajar seteguh neneknya yang membesarkan tujuh anaknya tanpa suami. Itu masih terbaca dalam nama di nisanya. Sangat jelas terlihat.[]
*Pegiat Sosial dan Awardee Pemprov NTB ke Malaysia.


Comments
Post a Comment