Bahasa dan Perdamaian

Muhammad Yunus A

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pada suatu hari, saya duduk di pinggir kali. Air mengalir deras di kali itu dan saya duduk di bawah pohon bambu, halaman belakang rumah yang saya tempati saat ini. Saya menyaksikan anak-anak mandi bersama dengan tubuh telanjang bulat. Ada diatara mereka yang melompat dari akar pohon mangga, ada yang berenang bersama kawannya, dan ada pula yang main air menepi di pinggir kali.

Yang membuat saya kaget, salah seorang anak memanggil kawannya dengan sebutan "mai wawi" (mari/kesini babi), lalu kawannya menjawab "ngena wawi" (tunggu babi). Karena kawannya terlambat, terlontar dari mulutnnya, la mea ina na ake (vagina ibunya ini). Tidak terima terhadap ucapan kawannya, ia lalu melempari kawannya. Saling pukul pun terjadi. Lalu sebagian kawan lainnya melerai dan keduanya menangis.

Peristiwa yang seperti demikian, saya temukan tidak hanya di pinggir kali itu, tetapi jua dibanyak tempat yang saya datangi. Realitas hidup dalam Seketika tak ada yang menjadi manusia, namun menjelama babi yang tentu saja jauh dari nilai kemanusiaan. Ada semacam proses dehumanisasi sejak dini pada anak-anak negeri. Berhenti menjadi menusia, kemudian melembagakan kehidupan yang hewani.

Potret Penggunaan bahasa kekerasan juga saya jumpai di lingkungan masyarakat, lingkungan kantor, lingkungan sekolah dan kampus, demikian juga di lingkungan rumah.

Bahasa kekerasan acapkali dilakukan oleh ibu terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, sesama saudara, sesama teman, demikian juga para bapak dan kawan kerja.

Sebab topik sederhana kali ini menyoal tentang bahasa, ada baiknya saya mengajukan pertanyaan sederhana untuk kita renungkan; apakah makna bahasa bagi kita?

Bagi saya pertanyaan ini penting untuk kita rumuskan jawabannya. Mungkin masing-masing dari kita, telah memiliki jawaban. Tentu saja jawabnya beragam, sebab hasil temuan, penelitian dan presepsi kita tentang bahasa memiliki pijakan masing-masing.

Sebagai manusia, kita dapat merumuskan makna bahasa adalah manusia. Pada titik ini, kita mendapati nilai kemanusian pada bahasa. Sebaliknya, fenomena bahasa dilekatkan pula penghacuran terhadap nilai kemanusian.

Bahasa sudah barang tentu memiliki hubungan yang erat dengan perdamaian, juga dengan kekerasan. Jadinya, ada bahasa perdamaian, ada bahasa kekerasan.

Sebagai manusia yang sejatinya memiliki keinginan suci dan cenderung kebenaran, kebaikan, keindahan dan kedamaian. Sudah seharusnya perbendaraan kata yang mengandung nilai perdamaian dijadikan bahan dasar dalam percakapan kemanusiaan.

Kita acapkali berhadapan dengan konflik kekerasan, baik dalam bentuk kekeran ferbal, fisik, maupun psikis yang tak jarang menyebabkan kerusakan, bahkan kematian.

Namun apakah kita sadar, bahwa sejak dari lingkungan rumah, lingkungan masyararakat, lingkuangan kantor ataupun lingkungan sekolah dan kampus, kita berhadap-hadapan dengan bahasa kekerasan yang di produksi secara terus menerus.

Fenomena kekerasan dalam bentuk percakapan dengan pilihan kata-kata keras di anggap oleh sebagai sesuatu yang lazim, menjadi kebiasaan, melembaga dalam tradisi, lalu disebut budaya yang memberi kontribusi terhadap tumbuh kembangnya peradaban.

Pilihan percakapan dengan kata-kata kekerasan telah mengantarkan kehidupan tersendiri di dalam syaraf otak kita. Tersimpan rapi dalam memori, lalu pada waktunya di ungkapkan kembali sebagai kelanjutan dari reproduksi kekerasan.

Kita semestinya berpegang pada Bahasa sebabgai kekuatan mental untuk menciptakan makna dan memecahkan masalah secara damai. Rumusan ini mencerminkan kenyataan bahwa kita adalah pengguna bahasa kognitif, komunikatif, kreatif, dan berpotensi damai.

Perdamaian mesti menjadi proses dinamis kerjasama untuk resolusi konflik. Perdamaian mengandaikan keadaan atau kondisi ketenangan, keamanan, keadilan, dan ketentraman.

Perdamaian juga menandai adanya kerjasama yang harmonis antar entitas yang terlibat.

Penyebutan terma kekerasan adalah pengingat yang baik dari tujuan mengintegrasikan bahasa dan perdamaian sebagai pendekatan untuk memahami, mencegah, memantau, dan, jika mungkin, menghilangkan bentuk-bentuk kekerasan komunikatif dalam kehidupan pribadi kita, masyarakat kita, dan dunia.

Sayangnya, bahwa manusia dapat keras dalam komunikasi. Pada titik inilah, dibutuhkan kemampuan berbahasa damai dalam pilihan tindakan komunikasi.

Saya ingin memilah kata-kata perdamaian dan kekerasan sebagai bahan untuk kita pikirkan dan renungkan bersama. Kemudian, kita aka terus kembangkan bahasa perdamaian sebagai salah satu cara memutus mata rantai kekerasan yang kini di anggap sebagai budaya.

Menyalahgunakan, memusuhi, menyerang, merendahkan, meluapkan kemarahan, menakut-nakuti, menggertak, memaksa, memuncak, menfitnah, mencela, pilih kasih, meremehkan, tidak menghormati, mengancam, mempermalukan, mengintimidasi, menghina, mengganggu, mengejek, menindas, menertawakan, mencemooh, mencap buruk, mencemarkan.

Tindakan komunikatif damai, berikut beberapa kata yang meningkatkan perdamaian. Menguatkan, setuju, mengakui, menyambut dengan tepuk tangan, menyetujui, membantu, bermanfaat, memberkati, membangun, merayakan, memuji, mengucapkan selamat, menghibur, menghargai, mendorong, meningkatkan, memuliakan, menyalami, menghormati, memperbaiki, menyukai, mencintai, mempromosikan, merekomendasikan, mendamaikan.

Semoga kita dapat memilah untuk memutus dan menghilangkan lingkaran kekerasan yang kian menggurita di sekitar kita yang kian mendunia.

Catatan Pinggir
Mbojo 2019

Comments

Popular Posts