Sulitkah Tahan Marah? (Surat cinta buat anak-anakku yang lagi marah)

Usman D Gangga

Jumpa lagi anakku! Insya Allah ayah menjumpaimu sedang bersama sajadah panjangmu.  Sebab, itulah yang ayah harapkan ketika menghantarmu di kos. Seingat ayah, di kamarmu sudah ayah gantungkan jam dinding, sajadah, dan buku-buku ilmu termasuk buku agama.

Anakku, akhir-akhir ini ayah mendengar kabar bahwa anakku bersama kawan-kawanmu sudah berubah. Kau dan kawana-kawanmu cepata marah dan membuat onar.  Tapi mudah-mudahan ini hoax anakku untuk menjatuhkan kehoramatan anakku. Tapi ayah percaya, cerita temanmu itu, karen MEREKA KIRIM JUGA foto-foto keberingasanmu bersama kawan-kawanmu,

Anakku! Ayah tak habis pikir, mengapa akhir-akhir ini kau mudah menghadirkan kemarahan yang kian membumbung tinggi. Dan ini dia, kemarahanmu beralih  ke perbuatan tercelah, seperti ayah lihat, kau dan temanmu dengan mudah membuat kacau ddari kampung ke kampung. Ayah catat banyak tingkahmu dan kawan-kawanmu membuat resah.

Anakku, kau dan kawan-kawanmu harus catat. Dunia ini, tak boleh disia-siakan. Dan kau bersama-teman-temanmu harus paham makna kita hidup di dunia ini. Iya bukankah ayah telah beri nasihat sama kamu,"Semua perbuatan kita selama hidup di dunia ini nanti di hari akhir nanti akan dipertanggungjawabkan.

 Anakku! Boleh jadi kau belum mengerti apa itu marah dan apa akibatnya? Baiklah ayah berikan lagi. Kemarahan, berasal dari kata marah (bahasa Inggris: wrath, anger; bahasa Latin: ira), adalah suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin. Kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif.

Anakku! Dalam kajian berbagai buku agama referensi lainnya, marah itu.dari syaitan. Seperti diketahui, syaitan diciptakan dari api. Jadi kemarahan itu, adalah api syaitan yang membakar dalam hati kita." Api itu yang bisa membakar  dan melahap kehormatan dan kemuliaan kita sendiri", tulis Muhammad  Nursani dalam "mencari Mutiara di Dasar Hati" (2006: 81)

Lalu, anakku harus catat, akibat dari kemarahan itu, antara lain, bisa sakit kepala, stress, stroke, dan ini dia, salah satu efek samping penting dari kemarahan bisa menjadi isolasi sosial. Tidak ada yang suka berada di sekitar marah, orang murung dan temperamental. Setelah agan mulai memiliki reputasi sebagai orang yang marah, kemungkinan orang menjauhkan diri dari anda. Nah, maukah kau dan kawan-kawanmu di jaih orang?

"Apa yang perlu kita lakukan ayah ketika kemarahan itu muncul?"
Nah dengan anakku bertanya, gerimis yang jatuh sejak tadi terhapus sudah. Itu artinya anakku mau berubah. Ingat anakku, tidak ada kebahagiaan itu muncul tanpa dimulai dari diri sendiri/ Maka, Ubahlah cara berpikir anakku, maka dunia anakku berubah.

Anakku! Berpikir panjanglah ketika kemarahan itu datang. Ingat kata ustadmu, dengan menahan marah, kita mengharap surga. Iya begitu besarnya pahala yang kita terima ketika menahan marah. Nah, sulitkah menahan marah?

Anakku sayang! Langkah awal, ubah cara berpikir jika kita mau berharap pahala. Yang jelas, seperti sering diangkat dan diungkit Ustadmu tempohari," Dengan menahan marah  insya Allah mendapat penghargaan tinggi di sisi Allah".

Anakku!, Jangan lupa camkan nasihat ayahmu dalam surat ini. Ayah tidak mau anakku menjadi bahan cerita negatif oleh orang. Kau ganteng, maka hatimu juga harus hanteng, anakku.
Ayah tak henti-hentinya menasihatimu, jaga dirimu juga kesehatanmu!***)

Comments

Popular Posts