PEREMPUAN YANG MELUDAHI LUKA


"Puiihh."
Di bawah pohon jambu, di kampusnya. Resa tiba-tiba meludahi tanah, ketika ia melihat seorang lelaki yang berjalan sekitar tiga meter di depanya. Itu bukan ludah biasa, ia benar-benar benci kepada lelaki yang lima menit lalu lewat, mukanya merah dan matanya melotot tajam, sesak di dada terus menyiksa. Lalu, ia kembali murung dan tertunduk, mungkin merenung sesuatu yang sulit dilupakan. Dan itu semua masih tergambar jelas dalam rupa lelaki yang di bencinya, setiap melihat lelaki itu getir kesakitan dan kemarahan terus memberontak. Dalam kerindangan pohon jambu, mangga, ketapak, dan mahoni, serta dihibur oleh bunga-bunga yang mulai mekar, ia berkali-kali mengusap wajahnya sekedar menenangkan kegalauan. Pagi itu pun matahari memandang bumi dengan tatapan sendu, di langit awan terlihat saling mengejar, cerah sedikit membuka diri.
La Ndolo Conary

Resa melihat kembali masa lalunya dalam memori yang hancur, raut wajah puluhan lelaki yang ia kenal muncul bergantian, ada yang ia ingat lama-lama diantara lelaki itu. Ada pula yang sejenak ia lewatkan begitu saja, sebab lama atau tidak ia kenang tergantung dari peristiwa yang menyitanya. Lelaki yang dilihatnya pagi itu merupakan salah satu dari sekian lelaki yang sering meringkus ingatanya, malah sering mengganggu langkahnya saat ingin merubah lebih baik lagi. "Selemah apa diriku hingga lelaki pergi tanpa menuturkan rasa bosannya. Walau mereka menjadikan tubuhku seperti ladang, bagai seorang petani yang menggarap dan menanam sesuka mereka. Aku rela-rela saja, tapi sebagai manusia yang punya hati tetap membutuhkan sepotong kata sebagai tanda kepergian, " ia mengeluhkan rasa pilunya.

Kampus semakin ramai, tapi di pohon tempat Resa merenungi masa lalunya tak ada kicau burung. Angin pun tak datang untuk candai daun-daun. Namun, apa saja yang terjadi di sekitarnya tak penting baginya. Resa tetap sibuk menyusun ingatannya, kenangan itu kembali membanjir gara-gara melihat lelaki yang telah menanam benih sakit dalam dirinya. Maka secara otomatis kenangan-kenangan lain pun muncul, tak peduli diinginkan atau tidak. Bukan saja wajah-wajah yang diingat Resa melainkan kata-kata yang selalu ditutur masih dihafal. "Aku bagai matahari yang setia pada siang dan bagai bulan yang peduli pada malam. Tak perlu diragukan tentang janjiku," ia mengingat kata-kata dari banyak lelaki yang mengencanginya. Dan, kalimat itu kini kedengaranya kotor dan jorok, jijik dan memuakan untuk didengar dan dipahami.

Jilbab Resa diterpa oleh angin, ia merapaikan jilbab itu. Hari itu ia memakai jilbab merah yang dihadiahkan oleh Taufik, seorang lelaki pendiam bertubuh tinggi seratus lima puluh enam centimeter, berambut keriting dan kulit putih. Taufik sangat mencintai Resa, tapi nasib percintaan mereka tak bertahan lama. Resa tak terlalu menyukai lelaki yang kurang humoris, sehingga Taufik ditinggalkan tanpa kesalahan. "Aku telah punya cowok lain. Jika kamu ingin diduakan tak apalah. Aku lebih menyukainya," ucap Resa tanpa peduli pada Taufik. Mendengar kalimat pacarnya, Taufik hanya diam. Matanya merah dan memandang wajah kekasihnya sesaat. Baju coklat dan celana hitam yang dipakainya saat memutuskan Taufik, itu hasil hubungannya dengan Luke. Resa terima kenangan itu setelah merestui keinginan Luke untuk tidur di sebuah Villa, memenuhi malam yang dingin dengan memainkan segala hasrat, tanpa peduli dosa dan tulus. Namun, tiga bulan usai adegan di ranjang dan pakaian kenangan itu diterima, akhirnya Resa ditelantarkan begitu saja. Kata Luke, "Aku hanya butuh tubuh bukan janji dan materi lainya. Apa peduliku kalau kamu kecewa," Luke mengatakan itu saat Resa mengemis untuk pertahankan hubungannya. Luke mengacuhkan apa saja yang dikatakan oleh Resa. "Aku dijadikan apa saja, asal bisa bersamamu," Resa Memohon.

"Tak bisa. Aku sudah tak butuh tubuhmu," Luke membentak.
"Aku bisa mati, Luke," diraihnya kaki pacarnya sambil menangis. Ia memohon setiap tarik nafasnya.

"Minggir," Luke mendorong tubuh Resa dengan kakinya, lalu pergi begitu saja.
Berhari-hari Resa menangis, ia menyalahkan diri sendiri. Mengingat itu membuat matanya bera
ir di bawah pohon jambu menjelang siang. Kesedihan yang pernah dijalaninya hampir kembali mengurung dirinya, tapi cepat ia kuasai diri. Telah dijanjinya tak akan menunjukan kelemahan sebagai seorang perempuan. "Perempuan memang diciptakan setelah lelaki ada tapi bukan berarti ia lemah. Tak berdaya sepanjang hidup. Dan, sungguh egois lelaki yang menganggap dirinya kuat dan tangguh, seakan-akan hanya lelaki saja yang dicintai oleh Tuhan. Sementara mereka tak sadar bahwa yang dipercaya oleh Tuhan untuk melahirkan seorang manusia yang tangguh itu yakni perempuan. Mereka harus sadar, di rahim perempuanlah semua orang jadi ada, di pangkuan perempuanlah semua orang kuat, dalam pelukan perempuanlah semua orang mengerti makna kasih sayang. Maka lelaki harus tau diri," Resa bicara pada pohon dan bebatuan.

"Puiihhh."
Ludah Resa menyiram tanah, ia semakin benci pada lelaki. Diingatnya Mea, perempuan yang pernah meracuni diri karena kekecewaan pada lelaki. Seorang sahabat yang mencoba ambil jalan pintas karena berkali-kali dihamili dan digugurkan oleh pacarnya, tapi akhirnya juga lelaki yang dicintai menikahi perempuan lain. Resa masih ingat jelas derita sahabatnya itu, sebab ia sendiri yang membawanya ke Rumah Sakit. Walau nyawanya mampu diselamatkan tapi hidupnya berantakan, setelah peristiwa itu Mea mati rasa pada lelaki dan segala hubungan hanya sebatas tubuh. Sehingga menjelang siang itu, Resa muak kepada semua lelaki, seorang lelaki yang ia lihat tadi pagi sangat dibencinya. Seorang lelaki yang pernah menjadi dosenya, mengajarinya banyak hal, hitam-putih telah diceramahi olehnya. Ia sangat menaruh hormat pada lelaki tadi pagi, lelaki yang menghamilinya lalu memaksanya membuang isi rahim.

"Kalau kamu membiarkan anak di rahim itu tetap ada, maka urusanya semakin berbahaya. Pikirkan masa depan dan kuliahmu," Resa meresapi ulang ungkapan lelaki itu. Seorang dosen yang menjaga wibawa tanpa menjaga nasib perempuan.
"Tapi, aku tak bisa melakukanya sendiri, Bang."
"Usahakan sampai bisa. Nanti aku kasih uang untuk urus itu. Jangan gegabah jika ingin hidupmu baik," intimidasinya kian keras.
"Iya," wajah Resa murung, dipaksanya untuk menyetujui perintah lelakinya.
Luka Resa menganga tanpa darah, mengering tapi setiap langkahnya rasa nyeri berceloteh, memarahi ketololan dirinya, menyumpahi kekejaman lelaki.
"Rahim tak pernah mengajari pada lelaki untuk berlaku bejat pada perempuan. Kecuali lelaki yang lahir dari perut para iblis," Resa menitipkan kata itu kepada pohon, mendung pun mendengarnya dan tak lama lagi langit membacanya. Mungkin titah takdir bisa dipengaruhi oleh keluhan perempuan.
"Puiihh," Resa bergegas dan jilbab yang ia pakai dibukanya. Ia ingin menunjuka pada mata alam bahwa pesona perempuan selalu mekar. Tubuh perempuan yakni magnet, ia akan merekatkan segala daya, maka hasrat menghampiri untuk dituntaskan. Matahari diselimuti oleh awan. Mendung dan separuh kegegalapan mengabari ketakutan, tapi Resa sudah telanjang dalam lumuran penyesalan, ia sayat kelaminnya sambil tertawa keras, matanya melototi tembok, darah mengalir di lantai.
“Puiiiihhh. Kelaminku permata pemberian Tuhan agar tau jalan pulang. Tapi dosa dan kenistaan tumbuh subur pula di kelaminku. Aku ingin jadi pembunuh,” desah Resa dalam luka.***

Comments

Popular Posts