BERGURU PADA JALAN

Di jalan, siapa saja kita temui, apa saja kita lihat, dan kita belajar menerima segalanya dengan tulus, atau terpaksa ikhlas. Mungkin juga pura-pura 6ikhlas setelah tak ada pilihan lain, misalnya saat berkendaraan tiba-tiba ada massa yang  demo atau ada kecelakaan, sementara kita sedang penting ke sebuah acara. Maka jalan terbaik dalam situasi demikian yakni mengasah kesabaran untuk 'menikmati' kenyataan tersebut. Kadang juga di jalan kita jumpai pengemis, pemulung, atau para pengamen, hal itu bisa saja melatih kita untuk ikhlas berbagi. 'Memaksa' diri untuk melihat kondisi kita pada diri orang lain, bukankah kita sedang mengaca diri tentang nilai perjuangan dalam bintik keringat penderitaan mereka. Dan, begitu pula ketika menatap hutan digunduli, laut disampahi, dan kemaksiatan dipelihara. Kita menemukan itu hanya di jalan.

Saya ingin bicara jalan tentang setapak para anak muda, kilas balik torehan kemanusiaan yang pernah dikumandangkan, pernah ditulis lewat pamflet, pernah didiskusi di forum dan di warung kopi, tak ada lelah kita berdiri dan berkaca di jalan ini. Setapak para mujahidin, alas kaki para musafir intelektual, lorong perjuangan kaum pinggiran, atlas gerakan kau tercerahkan, rumah para seniman, hanya di jalan kita belajar kitab-kitab kemanusiaan. Lalu, kita mengenal arti tentang kemiskinan, ketertindasan, ketertinggalan, dan kezaliman para penguasa. Seandainya tak ada jalan maka kita sulit mengenal diri sendiri, sebab hanya di jalan kita jujur mengukur diri, mata kita terbuka dan hati kita terbesit.
La Ndolo Conary

Di jalan terbentang sajadah menuju surga dan tersedia pula keranda yang mengantar ke neraka, tapi kadang banyak diantara kita melupakan tentang jalan yang kita lalui, jalan yang kita tekuni. Lupa? Sesuatu yang sulit dipercaya tapi harus dimengerti, jika ada diantara kita melupakan jalan yang menjadi wasilah ke tempat dimana kita berada kini. Sangatlah manusiawi, jika dulu ada yang berdebu karena jadi pendemo, buruh, salesman, petani. Kemudian kini jadi pegawai kantoran, angota Dewan, kantraktor proyek, makelar kasus, calo rotasi-mutasi, sehingga mereka lupa bercermin di jalan karena tiap hari berteduh digedung ber-AC. Jadi jalan bagi mereka hanyalah jalur yang melelahkan.

Saya ingin melawan lupa, memanggil kembali para anak muda jalanan untuk kembali ke jalan, meraba kembali naluri kemanusiaan yang pernah menyebut kata 'tolak' pada diktator. Anak muda yang anti otoriter, anak muda yang benci pada kejaliman, mari kita membelai ulang tulisan-tulisan dalam lembaran pernyataan sikap, saat kita memimpin orasi. Kita pernah berkata bahwa ketika saudara kita ditindas maka kitalah orang pertama yang menolongnya. Masihkah kepekaan itu kita rawat, sehingga dulu kita hanya merasa 'kenyang' dengan kata jihad. Hanya satu gelas air aqua kita sudah kuat untuk bergerak sehari, bermodalkan semangat kita melawan maut, walau diteror oleh oknum tertentu. Lalu, apa kini kita sudah memilih jalan lain untuk lebih berani atau semakini takut. Mana kalimat 'mati sekarang atau sepuluh tahun akan datang, sama saja'.

Jalan belum berdebu, kawan. Masih terang dan sejuk, kita masih bisa berbagi senyuman di bawah terik matahari. Marilah kembali, kita belum selesai berguru, masih banyak sosok dan wujud yang harus kita pelajari. Saya ingin mengenang ucapan kita, "Suara kebenaran tak akan bisa berubah jadi kesalahan. Walau tak ada seorang pun yang mendengarnya, masih ada batu dan pohon yang merekam. Biarlah alam yang bertutur ke generasi kita bahwa kebenaran akan menang."

Saya masih di jalan ini, seperti janji kita pada Tuhan. Kecuali kau sudah rela mutad, maka rayakan bersama kematian nurani yang peduli, hati yang bergetar ketika nilai kebenaran dan keadilan diinjak-injak, dikencengi disetiap sudut waktu. Jika suara kita dibungkam oleh ketakutan berarti kita sedang menghunus pedang untuk menyembeli diri sendiri. Lalu, dimana suara kebenaran itu? Dimana petuah-petuah keadilan dikumandang? Rabalah hatimu, dengarkan bisikannya, kemudian gelarkan sajadah perjuangan di jalan. ***

Comments

Popular Posts