21 TAHUN YANG LEWAT; APA HANYA PATUNG?
Malam ini tak sempat kubakar lilin, walau sekedar mengingat tanpa mengenang. Sebab, aku hanya generasi yang tumbuh beda jaman dengan mereka (para pejuang). Aku hanya mengenal nama-nama para mahasiswa yang nyawanya tertebus demi kesejahteraan dalam meruntuhkan tembok oteriter, melubangi baja 'kemiliteran'. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.
Demi nilai ideologi yang ditanam, demi cita-cita yang besar, demi menolak kejaliman, mereka memilih jalan kematian dari pada hidup jadi budak dunia. Mereka tak rela martabat bangsanya dicincang oleh pemimpin yang terlahir dan sudah makan dari hasil tanah pertiwi ini, dan entah juga para pemimpin itu bermesraan dengan asing untuk melucuti kemakmuran negeri ini.
Dan itu 20 tahun yang terkubur oleh banyak peristiwa serta tragedi, ada banyak generasi yang merawat keberanian mereka, tapi tak sedikit juga generasi yang ogah-ogahan, cuek saja membicarakan nilai perjuangan mereka. Mereka yang berani dan mengaku sebagai pewaris rela cacat, masuk bui, hilang dan dihilangkan, bahkan bakar diri hingga tewas. Lalu, mereka yang memilih jadi penumpang dan pecundang lebih suka main aman, tak ingin ambil resiko. Iya, mereka suka tempel diri dalam kekuasaan dan kerakusan para penguasa yang juga mewarisi sifat dan sikap keji itu. Memang semua itu pilihan masing-masing, tentu tidak sedikit yang bisa bertahan untuk jujur dalam menyatakan baik dan buruk, lembut dan kasar seorang yang punya jabatan serta uang, karena sebagian kita numpang makan dari kekayaan mereka dan pinjam nginap di rumah dan kantor mereka.
Di 20 tahun yang sudah bergulir ini, tak seharusnya juga kita turun jalan lalu berorasi, tapi setidaknya ada nilai yang harus dipertahankan oleh kita semua, seperti kejujuran, jiwa besar dalam berkorban, masih peduli pada orang-orang yang diacuhkan dan terpinggirkan, entah disengaja maupun tidak. Apakah kita sudah berprofesi pengusaha, birokrat, politisi, petani, jurnalis, mahasiswa, masih bertanggungjawab untuk menjaga risalah sejarah itu. Kita adalah mata yang masih menatap darah itu mengalir, kita adalah tangan yang terkepal dalam menolak ketidakadilan, kita adalah bibir yang melisankan petuah-petuah, kita adalah tubuh yang bersimbah darah dan berdiri di terik matahari, kita adalah keringat dalam menjadi pioner yang berdiri di atas kaki sendiri.
Di 20 tahun yang kabur ini, masihkah kita anak muda, para mahasiswa menjadi senyawa yang terus menghembuskan nafas-nafas berjuangan. Masihkah hati kita punya ruang untuk menyimpan cerita-cerita militan mereka atau sekedar nama saja. Masih kita membaca baris-baris kisah itu dan mengambil pelajar untuk dibumikan. Atau kita hanya senang menyablon foto-foto mereka pada kaos saat momen tertentu, menempel foto-foto mereka jika ada aksi saja.
Tapi, aku sendiri pun hanya mengingat sepucuk tragedi, itu pun tak tuntas kupahami maknanya. Aku hanya mengingat tanggal lalu melihat patung mereka dalam google, apakah aku sedih melihat patung mereka? Apakah aku berdebar hati setelah melihat patung mereka, berdebar seperti saat melihat foto seorang kekasih yang hilang? Apakah aku mengalirkan air mata ketika menatap patung mereka, menangis semacam orang yang telah meninggal pacarnya? Semuanya tidak, aku hanya senyum dan tertawa. Tertawa dalam kengerian, tertawaan dalam kegelisahan, tertawa dalam kenihilan. Sebab, aku hanya mampu menatap gambar patungnya, seketika.
Lalu? Aku tak bisa menjawab seperangkat tanda tanya. Tanyalah pada pohon dan rerumputan yang masih bisa tulus menemani kisah itu, tanyalah pada tanah dan bebatuan yang abadi mewujudkan rupa peristiwa. Karena, hanya patung yang kulihat.
Dan mereka yang sudah jadi patung itu, dia antaranya adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998).
#muatulang
![]() |
| La Ndolo Conary |
Demi nilai ideologi yang ditanam, demi cita-cita yang besar, demi menolak kejaliman, mereka memilih jalan kematian dari pada hidup jadi budak dunia. Mereka tak rela martabat bangsanya dicincang oleh pemimpin yang terlahir dan sudah makan dari hasil tanah pertiwi ini, dan entah juga para pemimpin itu bermesraan dengan asing untuk melucuti kemakmuran negeri ini.
Dan itu 20 tahun yang terkubur oleh banyak peristiwa serta tragedi, ada banyak generasi yang merawat keberanian mereka, tapi tak sedikit juga generasi yang ogah-ogahan, cuek saja membicarakan nilai perjuangan mereka. Mereka yang berani dan mengaku sebagai pewaris rela cacat, masuk bui, hilang dan dihilangkan, bahkan bakar diri hingga tewas. Lalu, mereka yang memilih jadi penumpang dan pecundang lebih suka main aman, tak ingin ambil resiko. Iya, mereka suka tempel diri dalam kekuasaan dan kerakusan para penguasa yang juga mewarisi sifat dan sikap keji itu. Memang semua itu pilihan masing-masing, tentu tidak sedikit yang bisa bertahan untuk jujur dalam menyatakan baik dan buruk, lembut dan kasar seorang yang punya jabatan serta uang, karena sebagian kita numpang makan dari kekayaan mereka dan pinjam nginap di rumah dan kantor mereka.
Di 20 tahun yang sudah bergulir ini, tak seharusnya juga kita turun jalan lalu berorasi, tapi setidaknya ada nilai yang harus dipertahankan oleh kita semua, seperti kejujuran, jiwa besar dalam berkorban, masih peduli pada orang-orang yang diacuhkan dan terpinggirkan, entah disengaja maupun tidak. Apakah kita sudah berprofesi pengusaha, birokrat, politisi, petani, jurnalis, mahasiswa, masih bertanggungjawab untuk menjaga risalah sejarah itu. Kita adalah mata yang masih menatap darah itu mengalir, kita adalah tangan yang terkepal dalam menolak ketidakadilan, kita adalah bibir yang melisankan petuah-petuah, kita adalah tubuh yang bersimbah darah dan berdiri di terik matahari, kita adalah keringat dalam menjadi pioner yang berdiri di atas kaki sendiri.
Di 20 tahun yang kabur ini, masihkah kita anak muda, para mahasiswa menjadi senyawa yang terus menghembuskan nafas-nafas berjuangan. Masihkah hati kita punya ruang untuk menyimpan cerita-cerita militan mereka atau sekedar nama saja. Masih kita membaca baris-baris kisah itu dan mengambil pelajar untuk dibumikan. Atau kita hanya senang menyablon foto-foto mereka pada kaos saat momen tertentu, menempel foto-foto mereka jika ada aksi saja.
Tapi, aku sendiri pun hanya mengingat sepucuk tragedi, itu pun tak tuntas kupahami maknanya. Aku hanya mengingat tanggal lalu melihat patung mereka dalam google, apakah aku sedih melihat patung mereka? Apakah aku berdebar hati setelah melihat patung mereka, berdebar seperti saat melihat foto seorang kekasih yang hilang? Apakah aku mengalirkan air mata ketika menatap patung mereka, menangis semacam orang yang telah meninggal pacarnya? Semuanya tidak, aku hanya senyum dan tertawa. Tertawa dalam kengerian, tertawaan dalam kegelisahan, tertawa dalam kenihilan. Sebab, aku hanya mampu menatap gambar patungnya, seketika.
Lalu? Aku tak bisa menjawab seperangkat tanda tanya. Tanyalah pada pohon dan rerumputan yang masih bisa tulus menemani kisah itu, tanyalah pada tanah dan bebatuan yang abadi mewujudkan rupa peristiwa. Karena, hanya patung yang kulihat.
Dan mereka yang sudah jadi patung itu, dia antaranya adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998).
#muatulang



Comments
Post a Comment