DONGGO MBAWA, SPIRIT PIAGAM MADINAH KONTEMPORER
Sejatinya manusia diciptakan berbeda-beda, beda warna, beda rupa, beda sudut pandang, beda suku bangsa dengan kemajemukan corak budayanya masing-masing. Perbedaan menjadi syarat mutlak ketika kita menginjakkan kaki di muka bumi ini. Ribuan tahun peradaban ini terbentuk, tentu beriringan dengan pergeseran nilai, dan menyeruaknya perbedaan- perbedaan secara kompleks.
![]() |
Alkhair, S.KM.,M.Kes
Direktur Literasi Lahila Institute
|
Suatu keyakinan ketika masuk dalam ranah tafsir, tentu keyakinan akan melahirkan ribuan interpretasi. Mengartikan perbedaan ketika pisau analisisnya menggunakan tendensi dan ego sektorial, maka perbedaan justru akan melahirkan sentiment dan gesekan lintas kelompok. Telah banyak terpampang dalam portet sejarah, turbolensi-turbolensi terjadi hanya karna sikap-sikap arogansi para pelakon sejarah. Namun di lain hal ketika perbedaan dianggap sebagai sebuah keindahan, maka implikasinya akan melahirkan perdamaian, rasa saling membutuhkan, saling bertanggung jawab serta semangat membangun ditengah keragaman.
"Di tengah kehidupan yang serba individualis, ditambah lagi secara global pergesekan lintas idiologi dunia berkontestasi untuk saling mendikte dan merajai dunia, penulis menilai peperangan (Idiologi dan senjata) saat ini sedang mencapai klimaks. Agama dijadikan instrument untuk menyuburkan lalu lintas perpecahan dewasa ini. Namun di tengah merebaknya sentiment agama transnasional, rupanya masih banyak masyarakat yang begitu cinta akan perbedaan, salah satunya adalah masyarakat desa Mbawa Kacematan Donggo".Desa Mbawa merupakan salah satu desa yang letaknya berada di puncak barat kabupaten Bima, tepatnya di kecamatan Donggo kabupaten Bima Provinsi NTB. Geografisnya yang berada di dataran tinggi sehingga mayoritas masyarakat berprofesi sebagai Petani, sisanya peternak, ASN dan Wiraswasta. Meminjam istilah kanda Aksan Albimawi (Dosen sosiologi UIN Alaudinn Makassar) dalam sebuah artikelnya kurang lebih “ Donggo Mbawa, Negeri satu suku Tiga Tuhan”, penduduk yang mendiami Mbawa memiliki tiga kepercayaan (Agama) yaitu : Islam, Protestan dan Katolik.
Tentu pembaca akan bertanya, lalu apa hubungan Donggo Mbawa dengan piagam Madinah?, Bukankah piagam Madinah lahir atas inisatif Rasulullah beserta seluruh agama sebagai konsensus penyatuan perbedaan yang hidup dalam kedamaian. Jika kita meneropong lebih jauh piagam madinah hadir sebagai solusi perdamaian yang menyatukan lintas golongan, lintas agama, lintas sekte, yang hidup saling melengkapi dan saling melindungi tanpa keberpihakan.
Donggo Mbawa sebagai spirit piagam Madinah merupakan suatu bukti identitas kedaerahan yang betul-betul mencontohi konsep besar sang Revolusioner dunia (Muhammad SAW). Dengan memiliki tiga basis keagamaan, justru membuat masyarakat tetap saling kompak, saling mengasihi, toleran, pluralis, serta saling melindungi dalam ruang social. Uniknya, ketika kita mencoba melancong ke sana, kita tidak akan bisa membedakan mana muslim dan mana yang bukan, sebab mereka sama-sama memakai sarung dan kopiah serta adat istiadatnya hampir sama seperti hal adat istiadat masyarakat Donggo pada umumnya. Uniknya lagi ketika di resepsi pernikahan warga muslim, warga non muslim berbondong-bondong hadir dengan memakai kerudung selayaknya seorang muslimah. Begitupun sebaliknya ketika warga non muslim yang memiliki hajatan, maka akan di bentuk panitia dari warga muslim yang melakukan penyembelihan hewan secara syariat islam, memasak, hingga pada sesi penghidangan di sediakan tempat khusus (pojokan) untuk undangan muslim.
Masih banyak keunikan-keunikan yang penulis ingin eksplore dalam coretan ini, mulai dari budaya gotong-royongnya, yang non muslim menghormati ketika muslim berpuasa dan meninggalkan segala aktivitas dapur di sing hari, begitu pula sebaliknya, muslim turut mengucapkan selamat ketika non muslim merayakan hari rayanya ( Natal), namun penulis memilik sisi keterbatasan oleh karena aktivitas lain yang cukup padat.
Singkatnya, dari proses social ini kita bisa mengambil pelajaran, perbedaan ketika diramu dengan sikap toleran, plural, dan damai. Maka wajah agama akan menjadi rahmat bagi semesta, bagi penganutnya dan bagi perdamaian dunia. Tidak akan ada lagi bibit-bibit radikal ekstrimis yang lahir dari sentimental agama. Desa mbawa salah satu icon perdamaian lintas agama. Cukuplah timur tengah hancur lebur karena perbedaan idiologisasinya, cukuplah genosida Rohingya terjadi karena provokasi agama, tapi tidak untuk bangsa kita, bangsa yang satu, bhineka tunggal ika.



Comments
Post a Comment