PUISI UNTUK AYAH
Yasmin Winola Zahra
Dear Ayah...!
Di penghujung senja kini,semburat lembayung hendak beranjak,ia menghantarkan malam teruntukmu,memberi senyum binar rembulan,serambian gemintang berkedip mengajak bergurau,walau kuparau melambai di bawah bulan,meminta angin hembuskan kesejukan teruntuknya,terkadang jatuh buliran embun kian meritmis
Tak jua mengelupas di raut wajah sayu
Merindukan belaian halus tangan suci,mengulum senyum bagai kelopak rekah tulip, mendongengkan si gembala ternak
Ngiang kini tutur lembut kekata,ingin kubagai Masa kecil dulu,tertidur dipangkuan tenggelam bersama bintang,berteman embun malam,aku masih terpaku menatap gambar bisu pria usia di ubun senja,berpiwai menyapa menguntai sebait sajak
Akupun pilu menahan rindu tanpa batas waktu
Diam di sangkar merpati berhiaskan kuntum-kuntum mawar,terhalang dinding belenggu
Jera sepanjang lipatan anak tangga waktu
Oman:17218
Dear Ayah...!
Di penghujung senja kini,semburat lembayung hendak beranjak,ia menghantarkan malam teruntukmu,memberi senyum binar rembulan,serambian gemintang berkedip mengajak bergurau,walau kuparau melambai di bawah bulan,meminta angin hembuskan kesejukan teruntuknya,terkadang jatuh buliran embun kian meritmis
Tak jua mengelupas di raut wajah sayu
Merindukan belaian halus tangan suci,mengulum senyum bagai kelopak rekah tulip, mendongengkan si gembala ternak
Ngiang kini tutur lembut kekata,ingin kubagai Masa kecil dulu,tertidur dipangkuan tenggelam bersama bintang,berteman embun malam,aku masih terpaku menatap gambar bisu pria usia di ubun senja,berpiwai menyapa menguntai sebait sajak
Akupun pilu menahan rindu tanpa batas waktu
Diam di sangkar merpati berhiaskan kuntum-kuntum mawar,terhalang dinding belenggu
Jera sepanjang lipatan anak tangga waktu
Oman:17218



Comments
Post a Comment