Salunga, Nyanyian Alam Damai
puncak lelah yakni damai
ketika kaki menapaki pusaran gunung
keluh dan peluh terbayar tuntas
dan aku melihat rimbun atap rumah, kubah masjid, sawah yang dipenuhi padi-padi.
aku kian damai, wajah kenangan memuda lagi
suara azan mengetuk malam
derai angin mengelombangkan alunan ngaji.
aku damai
di puncak ini, lantunan ayat Qur'an terdengar
Salunga, piramida Donggo yang terawat
titah tetua, bersuara dari tanah keramat, berbicara di balik pohon, berkhotbah di atas batu
tentang ketulusan merawat bumi, menjaga batin tradisi.
wahai para leluhur
aku damai, aku rindu bibir hikmah
yang bertutur tentang kematian dalam hidup
berkisah duka saat bahagia memancar
cerita perang ketika damai menghimpun
dan di dada kehidupan, langit dan bumi berkhidmat.
wahai tanah leluhur
di padang 'Mpiri Lua', aku cium darah yang harum
tapak kuda saling kejar, teriak heroik membahana
padang, bebatuan, dan rimbun pepohonan kisahkan jiwa kesatria.
jarak melambung
aku temui leluhur dalam jelajah
gunung salunga mengeluh
mendengar bumi Donggo meratap pilu.
pohon-pohon tumbang
terkapar
gunung sunyi dan sepi
nafas hidup tersumbat, akal mamanas
nurani pun terlibat tikai
kita bunuh kesantunan pada alam
dan sesama manusia.
wahai bumi, tempat leluhur kami
menjaga tradisi, jadi panutan tanah tua ini
dana Donggo pusar kedamaian
tumbuh kesatria berhati mulia
jadi panji keadilan untuk semesta
kembalikan romantika kisah tetua bijak
kembali, kembali, kembali bersama aku.
gunung Salunga menangis
di selangkanganya simpul petaka
buih bencana, banjir melahap perkampungan
isak tangis melukai jiwa leluhur
segalanya jadi terasing.
petuah bijak
terdengar kembali
batin tradisi disucikan
harmonisasi kultur diceriakan
di Salunga, aku dan kau jadi kita
langit dan bumi jadi semesta.
Donggo, 13 Feb 2018



Comments
Post a Comment