Benarkah Itu Aku?
Berangkat dari hal tersebut, kasih yang kuharapkan, ternyata kerap tak kudapati. Aku mulai hidup bersama seorang nenek, pada saat umurku 2 bulan. Kedua orangtuaku berangkat merantau ke jakarta. Disaat itulah waktu sepih mulai menghantuiku. Kujalani kehidupanku tanpa kasih dari seorang ayah dan ibu. ku lewati waktu hidupku dengan kesepian kasih juga sayang dari lembutnya belaian tangan ayah dan ibu. Kutuntun waktu hidupku dengan kemanjaan dan bebasnya berekspresi tanpa ada larangan serta teguran keras dari nenekku.
Walau awalnya hidupku terasa sepih tanpa ayah dan ibi, namun sosok nenek dapat menjadi ayah sekaligus ibu untukku saat itu. Nenek selalu memanjakanku dengan perhatian lebih, tak pernah sekali pun aku dibuatnya sedih dan terluka oleh lisannya, terlebih mengotori tubuhku dengan tangannya. Aku pun menyadari itu, betapa sayangnya nenek padaku, hingga tak pernah sedetik pun, ku dibuatnya sedih dan menangis. Dengan perhatian, pun kasih nan tulus dari sosok perempuan tua itu, aku bisa merasakan kasih juga sayang seperti halnya yang mereka rasakan dari seorang ayah dan ibu. Sosok nenek, mampu membuatku membaca bayangan kasih nan tulus itu, bahwa inilah gambaran dari kasih sayang orangtua untuk anak-anaknya.
Hari-hariku beribah menjadi indah, waktu hidupku berjalan begitu cepat, pandangan mataku semakin cerah melihat kedepan, akalku pun mulai beraksi. Akhirnya, aku pun merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak lain, begitu pun dengan kebutuhan hidupku, semua terpenuhi dan selalu dituruti. Sempat aku mengira, bahwa sosok nenek inilah orangtua kandungku,yang selama ini mengandung dan membesarkanku hingga saat itu.
Waktu terus berjalan, aku pun tak kuasa menghadapi kenyataan, aku di uji dengan ujian yang sangat menguras habis energiku. Aku di hadapkan dengan beban masalah yang begitu berat, masalah yang tak pernah ku duga sebelumnya, yaitu, beban hidup yang selama itu aku harapkan. Dimana aku bisa bersama dengan seorang ayah dan ibu kandungku, harapan itu pun terpenuhi, sejak beberapa tahun kemudian.
Mereka (orangtuaku) pulang saat aku menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), mulailah hidupku di hitung mundur saat itu. Dimana aku harus menerima beban berat untuk ku pikul kemana pun aku pergi. Yaitu setelah lama harapanku pendam dan mengendap dalam lumpur kerinduan.
Aku tak menyangka sebelumnya, bahwa aku akan merasakn hal itu, aku akan merasakan tidak mempunyai orangtua lagi. Karena ketika mereka (orantuaku) hidup bersama denganku, tak kuduga sebelumnya, bahwa aku tidak begitu mendapatkan kasih nan sayangnya untukku. Setelah sekian lama aku ditinggal mereka, bahkan sampai aku pun pernah mengira, bahwa aku telah dibuang oleh mereka. Sebab, cukup lama waktu ku lalui sendiri tanpa kelembutan belaian seorang ayah dan ibu, hanya sosok seorang nenek/perempuan tua itulah yang selalu ada untukku pada waktu bertahun-tahun itu.
Aku seakan bukanlah anaknya, tak sedikit pun kudapati perhatian dan kasih itu. Begitu lamanya kumenanti waktu untuk bisa bersama dengan mereka (orangtuaku). Namun, ternyata kasih yang kuharapkan tak kian kudapati. Tak segan kukatakan "sia-sialah aku menanti waktu untuk tinggal bersama mereka, ternyata diriku tak lagi anaknya".
Aku bingung ingin mengadu kemana, cerita pun tak kuasa, apalagi menyampaikan pada mereka, yaitu seorang ayah dan ibu yang kudamba selama waktu yang cukup lama itu. Aku tetap jalani aktivitas sekolahku seperti biasanya, aku pun sering terlihat murung dihadapan teman-teman kelasku, bahkan saat kegiatan belejar mengajar (KBM) pun, ku terlihat murung dan terdiam. Resikonya, aku sering dipanggil guru Bimbingan Konseling (BP). Dalam hal ini, guru BP Ingin meminta keterangan soal perubahan diriku beberapa hari kemudian, yaitu setelah aku tinggal bersama orangtuaku. Aku pun jawab dengan jujur setiap pertanyaan yang disodorkan untukku. Yaitu soal perhatian orangtua pada anaknya, bahwa aku tak mendapatkan itu, walau saat itu aku telah tinggal bersama orangtuaku. Hari-hari berikutnya pun tak ada beda, aku masih terbebani hal demikian.
Suatu hari aku diajak bolos oleh teman kelasku, akhirnya kami pun bolos sekolah saat itu. Setelah sampai di kost teman, aku dan temanku pun istrahat dan sambil bercerita. Tanpa aku ketahui, gelas berbentuk plastik saat itu disodorkan untukku, dengan label montea. Aku pun tak segan menenerimanya, ternyata dalam gelas itu ada bahan cair yang sejenis air, namun sebelumnya tak pernah ku jumpai jenis air yang seperti demikian.
Temanku menyuruh aku mencobanya, "udah minum aja dulu, enak tahu, coba dah" kata temanku.
Lalu, aku pun meminumnya. Awalnya aku sempat bertanya setelah meminumnya, dengan kepolosanku, aku tak tahu ternyata yang aku minum tersebut merupakan minuman haram (miras). Aku pun menikmatinya begitu nikmat kurasa. Hingga aku pun terlena dibuatnya, terus dan terus aku menikmati minuman itu sampai tiga tahun lamanya ku terlena dengan kenikmatan yang haram tersebut.
Aku pun sampai menikmati nikmatnya merokok, bahkan aku setiap harinya tak langsung pulang kerumah setelah pulang sekolah, wajib bagiku untuk singgah di tempat kost teman sekolah ku, hanya untuk menikmati nikmatnya miniman haram tersebut, pun nikmat merokok.
Sampailah pada titik yang memalukan menurutku. Aku dianggap sebagai perempuan nakal oleh tetangga-tetanggaku, karena mereka melihat aku, dan temanku disaat melakukan aktivitas haram tersebut. Sampai pada suatu waktu, tetanggaku melaporkan kejadian tersebut ke orangtuaku. Tapi aku masih bisa berbohong, dengan cara menghilangkan aromanya denga bau minyak wangi. Dan aktivitas yang sama pun kembali aku lakukan bersama temanku di tempat kostnya.
Hingga akhirnya, aku pun diketahui ayah dan ibu, ketika itu aku muntah dihadapan mereka setelah aku makan bauh duren, lalu bau minuman haram itu pun tercium oleh hidung kedua orangtuaku. Dan aku pun tak lagi dapat mengelak dari semua itu. Akhirnya aku di marahi sama ibuku, ayah tidak terlalu keras, justru ibulah yang paling keras.
Dan aku pun dibawakan ke tempat ruqiyah pada saat itu, tempat orang berobat dengan menggunakan teologi islam, yaitu dengan cara membacakan ayat-ayat suci alquraan.
Hal yang mengagetkan, pun keluar dengan sendirinya dimulutku, aku jujur dihadapan mereka tanpa kusadari, bahwa aku seperti itu karena aku tak pernah dianggap sebagai anak dan tak sedikitpun kasih sayang orangtua aku dapat. "Aku kayak gini karena aku tidak pernah diperhatikan sama ayah dan ibu, ayah dan ibu hanya memerhatikan adik-adikku, mungkin aku bukan anak kalian sampai aku pun tak sedikitpun merasakan perhatian dan kasih sayang itu, hingga akhirnya aku jadi seperti ini pah ma" jelasku depan orantuaku.
Mereka pun menangis dan menyadari kesalahannya, dipeluknyalah aku dengan erat dan dibelainyalah aku dengan ketulusan kasih dan sayngnya yang tulus.
Benarkah aku ini perempuan nakal yang dimaksud itu?



Comments
Post a Comment