PESTA DEMOKRASI

MENCARI PEMIMPIN BARU DI PILKADA 2018 

Oleh : Taufik Ramadhoan S.T
Tidak diherankan berbagai cara yang dilakukan oleh para paslon demi meraih sebuah kemenangan dalam ajang pentas politik pada setiap pesta demokrasi. Mulai dari cara yang etis, bahkan sampai pada cara yang tidak etis demi mencapai sebuah kemenangan dalam setiap ajang pentas politik atau sering kita katakana pesta demokrasi. Pesta demokrasi menjadi dambaan bagi para politisi praktis, untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya selama mereka mengabdikan diri pada sebuah parpol yang menjadi kendaraan mereka dalam berpolitik praktis. Siapa yang tidak tergiur dengan nilai uang yang banyak. Mulai dari gaji, tunjangan uang makan, rumah dinas, kendaraan dinas, sampai pada uang rapat sekalipun ada untuk mereka yang mendapatkan kemenangan dan berhasil menduduki kursi yang menjadi rebutan itu, dan masih banyak lagi bentuk keuntungan-keuntungan yang lainnya.
Namun hakikat politik praktis tidak hanya memperjuangkan untuk kelompok/parpol dan pribadinya saja, melainkan rakyat atau konstituennya adalah tujuan utama dalam perjuangannya. Tidak dapat dipungkiri ketika dilematis melanda dirinya, antara kepentingan parpol, pribadi dan konstituennya mana yang harus didahulukan. Tapi sebagai pemimpin yang benar-benar ingin membangun perubahan dan kemajuan yang bersifat kontinew atau berkesinambungan, kepentingan rakyatlah yang menjadi tujuan utamanya dalam tugas yang sedang diamanahkan pada dirinya,tapi bukan kepentingan-kepentingan parpolnya dan bukan pula kepentingan pribadinya yang harus didahulukan. Hakikatnya system politik bukanlah system oligarki, yaitu system  yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga , kerabat dan para sahabat atau hanya orang-orang terdekat saja. Oleh karena itu, mari kita gunakan system demokrasi ini untuk kesejahteraan, sebagaimana yang kita dengarkan pada setiap lorong-lorong pidato dan kampanye yang dideklarasikan.
Selama ini politik hanyalah menjadi milik para elit politik, dan masyarakat hanyalah konstituen yang dianggap sebagai massa , yaitu massa yang bodoh, sehingga semaunya para politisi praktis membodoh-bodohi mereka dengan segala janji-janji busuk yang bertopeng dibalik manisnya janji disaat mereka berkampanye dihadapan para konstituennya. Demokrasi yang dimaksud itu bukanlah untuk demokrasi itu sendiri, tapi demokrasi itu adalah system untuk menyejahterakan rakyat tapi bukan malah mencekik mereka dengan kesengsaraan, kekurangan kebutuhan dan bahkan kemiskinan yang menjerat rakyatnya, tidak sedikitpun membuat hati mereka terketuk untuk melihat kesengsaraan yang melanda konstituennya. Masyarakat selama ini hanyalah objek yang mereka butuhkan disaat-saat tertentu saja, yaitu pada saat pesta demokrasi saja. Tapi setelah pemilu berakhir, mereka lupa dengan rakyatnya, mereka lupa dengan konstituennya, terlebih lagi ketika mereka telah menduduki kursi kemengan.
Sebuah moto untuk mendorong pemimpin yang akan datang  demi kemajuan dan kesejahteraan  rakyat, yaitu pemimpin yang benar-benar memimpin rakyatnya menjadi seorang pemimpin sebagai mana hakikatnya pemimpin, MOTO (Jadilah iblis sebelum menjadi malaikat). Moto ini teruntuk calon-calon pemimpin yang benar-benar ingin mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan rakyatnya atau perubahan dan kemajuan yang berkesinambungan untuk rakyat, bangsa dan Negara ini.
Lihat presiden Turki hari ini, yaitu seorang yang bernama Erdogan mampu mengubah Turki yang darinya pluralisme menjadi Negara yang islamis. Pemimpin yang siap mati dan siap berkorban segalanya demi rakyatnya, bagaikan sosok khalifah Muhammad Al-fatih yang memberontak dan melawan musuh islam serta berhasil menaklukan konstantinopel Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan dengan 29 Mei 1453 M pada saat itu. Dan hari ini dunia sedang berkiblat pada Turki atau sang pemberani dan pemberontak demi kemakmuran masyarakat Turki, tentunya presiden Turki hari ini yang bernama Erdogan itu sendiri, yaitu  sosok manusia yang mampu membawa perubahan bagi Negara Turki hari ini.
Jadikanlah masa kepemimpinan para-para pemimpin yang terdahulu dan para-para khalifah pada jaman dulu sebagai penuntun sekaligus pedoman dalam menjadi pemimpin daerah, bangsa dan negara, terlebih lagi sosok pemimpin yang kita yakini sebagai kekasihnya allah yaitu Nabi Muhammad SAW seorang rosulullah SAW yang tercatat sebagai Tokoh yang paling berpengaruh didunia. Beliau adalah sosok yang patut dan harus teladani, baik dalam bentuk kepemimpinanya maupun hal lain, terlebih lagi dalam bidang politiknya.
          Memimpin Negeri dengan logika tidakkan pernah bisa melahirkan kemakmuran, memimpin Negeri dengan catatn akademis hanya akan melahirkan catatan panjang yang dikritisi oleh Negara-negara yang memiliki kemajuan dan perkembangan yang pesat, memimpin negeri hanya bisa dengan satu, yaitu keyakinan terhadap anak dan leluhurnya. Karena negeri ini dimerdekakan oleh para leluhurnya, bukan oleh orang lain dan bukan pula oleh catatan-catatan administrasi bangsa manapun.

Comments

Popular Posts