KEMATIAN TUHAN
ILMD
KARNA TUHAN TELAH MATI
Banyak diantara manusia hari ini dan bahkan setiap manusia terlena dengan dunia. Tidak ada lagi orang-orang yang bicara persoalan teologi-teolagi islam, tidak banyak lagi manusia yang peduli akan sesamanya, tidak ada lagi manusia yang peduli akan bumi yang mereka tempati hari ini. Kehilangan nilai-nilai inilah yang terjadi hari ini, sehingga memmbuat mereka lupa akan kehidupan di hari nanti (akhirat). Banyaka yang menganggap bahwa dalam kitab yang dijelaskan oleh alquraan itu sendiri “bahwa kehidupan akhirat jauh lebih indah dari kehidupan dunia” itu hanyalah sebuah omong kosong belaka dan “ibadah tidak hanya sholat atau ibadah ritual itu sendiri” , dunia hanyalah sebuah terminal bagi kita semua, dan seindah apapun terminal tak ada satupun orang yang ingin hidup diterminal. Itulah dunia pada hakikatnya. Saking kotornya dunia, tak satupun manusia yang mampu melihat keaslian dunia yang nyata itu sendiri.
Kata tuhan telah mati, itulah yang relevan dengan realitanya hari ini, sebab bukan lagi hakikatnya, secara sari’atnya pun tuhan telah tiada, apalagi untuk ketingkat selanjutnya. Akan ada tuhan ketika manusia berubah menjadi ROBOT (karena robot akan mengikuti perintah dan larangan penciptanya). Sebab idealisme tidak lagi terselamatkan, dan kini berlaku yang namanya nihilisme. Kecenderungan orang-orang terlena dengan kemewahan, kedudukan, harta dan tahta serta wanita mengakibatkan TUHAN MATI. Kematian Tuhan hari ini akan menyelamkan manusia pada banyak hal, diantaranya kekufuran, ria, kesombongan dan bahkan kezdoliman serta kemurkaan. Banyak kejadian yang kita amati selama ini, contohnya : terjadi kebanjiran, longsornya tanah, pelecahan seksual dll, itu sebabnya Tuhan Telah Mati. Ketika tuhan telah mati, maka tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan semua ini selain menghidupkan kembali Tuhan itu sendiri.
Zaman ini adalah zaman instan melalui produksi hasrat dan produksi khayalan yang memfatalkan kesadaran akan Tuhan. Tubuh menggoda, hasrat-birahi dan teologi kembali terjatuh kedalam “ketidakhadiran akan diferensiasi” dengan mengatakan, bahwa: “Jika ada Tuhan, jika Dia Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Tuhan masih mengizinkan tindakan teror, pembunuhan massal, pertumpahan darah, dan tindakan kejahatan lainnya di muka bumi?” Dalam kematian Tuhan, kita menemukan kegilaan dalam menjadikan Tuhannya bersetubuh tanpa porno(-grafer) teologi negatif. Porno(-grafi) teologi negatif mendahului kematian, yaitu kematian Tuhan jalan keluarnya antara erotis dan teroris.
Kutipan “Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]? “ (Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125)
Pandangan ini memang akan mengandung makna kontradiksi ketika kita memandangnya secara harafiah, tapi secara fisiknya Tuhan memang telah mati. Tuhan Mati mengakibatkan tidak adanya objek yang menjadi panutan bagi para pembunuh Tuhan, oleh karenya kondisi hari ini sangatlah memperihatinkan. Akan ada kemungkinan-kemungkinan positif bagi manusia karena telah tiadanya Tuhan. Manusia akan lebih bebas berkreatif tanpa perintah dan larangan dalam menunaikan kehidupannya.
Ironisnya kematian Tuhan yang dibunuh oleh para pembunuh Tuhan dengan harapan akan lebih baik ketika Tuhan telah mati, sampai detik inipun tidak satupun dari pembunuh tuhan berhasil menciptakan kedamaian untuk sesamanya para pembunuh Tuhan. Kesana kemari kembali mencari jalan keluar dari masalah yang dihadirkan oleh mereka yaitu dengan membunuh Tuhan sebelumnya. Mereka mulai kebingungan bagaimana caranya agar menyelesaikan masalah yang ada, mulai dari masalah pendidikan, ekonomi , budaya, agama , politik dll, tidak mampu mereka atasi. Masalah – masalah ini cukup menguras habis tenaga para pembunuh Tuhan dalam menyelesaikan segala masalah dan konflik yang ada tersebut.
Pertanyaannya, apakah para pembunuh Tuhan akan kembali menghidupkan Tuhan ? apakah Tuhan dapat dihidupkan kembali ? dan bagaimanakah tindakan Tuhan setelah Tuhan telah bangun dan dihidupkan kembali oleh para pembunuh Tuhan sebelumnya ?
Sudahlah jangan menguras tenaga untuk berfikir tentang itu, dan jangan pula kita kumpulan tenaga untuk memikirkan jawabannya…!!! Yang terpenting mari kita kembali kejalan yang benar, kita kembalikan budaya-budaya islam, kita kembalikan budaya-budaya disetiap daerah yang ada, mari kita rawat sejarah yang telah kita tinggalkan, kita kembalikan semuanya, gunakan pola yang baru, lakukan rekonstruksi minsed agar tercapai perubahan besar dalam hidup dan kehidupan ini.
………
#BERSAMBUNG


ReplyDeleteHidup dalam dunia yang tidak meyakinkan membuat setiap manusia harus berpikir sampai titik dimana semua menjadi dasar kehidupan, menjadi dasar semua ide yang dapat merubah dunia dengan pikiran terbuka secara fundamental. Mencoba untuk merangkai pikiran sang filsuf yang terkenal dengan prosa “Tuhan telah mati karena manusia telah membunuhnya” membuat saya beranggapan bahwa Nietzsche tidak memiliki aturan dalam berpikir sehingga pemikirannya sangat fundamental dan radikal. Itulah sang filsuf pembunuh tuhan Nietzsche yang amat saya banggakan dan menjadi panutan bagi pemikiran saya selama ini.
ReplyDeleteHidup dalam dunia yang tidak meyakinkan membuat setiap manusia harus berpikir sampai titik dimana semua menjadi dasar kehidupan, menjadi dasar semua ide yang dapat merubah dunia dengan pikiran terbuka secara fundamental. Mencoba untuk merangkai pikiran sang filsuf yang terkenal dengan prosa “Tuhan telah mati karena manusia telah membunuhnya” membuat saya beranggapan bahwa Nietzsche tidak memiliki aturan dalam berpikir sehingga pemikirannya sangat fundamental dan radikal. Itulah sang filsuf pembunuh tuhan Nietzsche yang amat saya banggakan dan menjadi panutan bagi pemikiran saya selama ini.