BIDADARI
Sepasang bidadari...
Tangisan itu adalah dosa untuk kami wahai ibu, senyum dan tawa itu adalah ibadahmu
Untuk kami wahai bidadari. Pada saat engkau memberikan restu pada kami disaat kami
harus rela hidup merantau demi mewujudkan harapanmu wahai ibu. Disaat itulah waktu hidup kami mulai dihitung mundur kembali kepada-Nya. Namun engkau tak pernah berhenti memohon pada tuhan semesta alam hingga sampai saat ini kamipun masih diberikan kekuatan untuk terus menghadapi kematian yang telah dihitung mundur disaat engkau memberikan restu kepada kami untuk pergi dengan modal untuk bertahan hidup hanyalah harapan bukanlah berupa materi ataupun cita-cita. Engkau adalah bidadari kami yang tak pernah berhenti menyebut nama kami disaat engkau memohon kepada-Nya sekalipun kami selalu membuatmu bersedih, sering membohongimu dan bahkan kami menipumu wahai ibu namun engkau tak pernah sedikitpun mengungkapkan rasa sakit itu. Engkau selalu mengirimkan rindu melalui ruh mu yang bertasbih kepada tuhan semesta alam untuk kami pejuangmu, engkau selalu berdoa untuk kami wahai bidadari, walaupun kami tak memintamu untuk mengucapak isyarat hatimu maupun lisanmu yang memohon kepada-Nya untuk kami namun keikhlasanmu terus melukiskan kesetian dan kasih sayangmu terhadapak kamai. Kami melihat kehidupan dengan cinta, cintamu yang terus membawa kami untuk berani menjadi pejuang untkmu, cintamu yang tak pernah lelah mengajarkan kami, cintamu yang menjadikan sesuatu hal yang sederhana memiliki makna kebahagian dan mengajarkan kesederhanaan menjadi sesuatu hal yang besar.
Cinta dan kasihmu yang mengajari kami tentang ketegaran dan keteguhan hati menghadapi segala rintangan yang akan kami lalui tanpamu yang selalu ada disamping kami, yang selalu memberikan dorongan positif, dorongan keikhlasan dalam menjalankan proses untuk mencapai sebuah harapan yang engkau titipkan pada kami dalam mengarungi bahtera pengabdian diri pada pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi .
Untuk kami wahai bidadari. Pada saat engkau memberikan restu pada kami disaat kami
harus rela hidup merantau demi mewujudkan harapanmu wahai ibu. Disaat itulah waktu hidup kami mulai dihitung mundur kembali kepada-Nya. Namun engkau tak pernah berhenti memohon pada tuhan semesta alam hingga sampai saat ini kamipun masih diberikan kekuatan untuk terus menghadapi kematian yang telah dihitung mundur disaat engkau memberikan restu kepada kami untuk pergi dengan modal untuk bertahan hidup hanyalah harapan bukanlah berupa materi ataupun cita-cita. Engkau adalah bidadari kami yang tak pernah berhenti menyebut nama kami disaat engkau memohon kepada-Nya sekalipun kami selalu membuatmu bersedih, sering membohongimu dan bahkan kami menipumu wahai ibu namun engkau tak pernah sedikitpun mengungkapkan rasa sakit itu. Engkau selalu mengirimkan rindu melalui ruh mu yang bertasbih kepada tuhan semesta alam untuk kami pejuangmu, engkau selalu berdoa untuk kami wahai bidadari, walaupun kami tak memintamu untuk mengucapak isyarat hatimu maupun lisanmu yang memohon kepada-Nya untuk kami namun keikhlasanmu terus melukiskan kesetian dan kasih sayangmu terhadapak kamai. Kami melihat kehidupan dengan cinta, cintamu yang terus membawa kami untuk berani menjadi pejuang untkmu, cintamu yang tak pernah lelah mengajarkan kami, cintamu yang menjadikan sesuatu hal yang sederhana memiliki makna kebahagian dan mengajarkan kesederhanaan menjadi sesuatu hal yang besar.
Cinta dan kasihmu yang mengajari kami tentang ketegaran dan keteguhan hati menghadapi segala rintangan yang akan kami lalui tanpamu yang selalu ada disamping kami, yang selalu memberikan dorongan positif, dorongan keikhlasan dalam menjalankan proses untuk mencapai sebuah harapan yang engkau titipkan pada kami dalam mengarungi bahtera pengabdian diri pada pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi .



Comments
Post a Comment